Total Tayangan Laman

Rabu, 13 Juni 2012

PERAN PENTING VITAMIN PADA TERNAK

VITAMIN BAGI TUBUH TERNAK
                             I MADE ADI JAYA              

I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1911 seorang peneliti dari Lister Institute di London yaitu Casimir Funk memberi nama vitamine, yang kemudian dikenal dengan nama vitamin. Vitamin adalah senyawa organic yang secara keseluruhan dibedakan struktur dan fungsinya dengan protein, lemak, dan karbohidrat. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit, namun sangat penting dalam berbagai fungsi tubuh ternak. Tanpa vitamin, kuda tidak dapat tumbuh bereproduksi, kerja, laktasi atau membentuk tubuh, sehingga vitamin harus menjadi bagian dari ransum. Akhir-akhir ini terdapat berbagai informasi penelitian tentang level vitamin yang dibutuhkan kuda, namun sejauh ini belum diketahui vitamin mana yang diperlukan untuk ditambahkan agar ransum kuda seimbang.
Setiap mahluk hidup pasti membutuhkan makanan sebagai penghasil energi untuk tumbuh, beraktivitas dan bereproduksi. Sama halnya dengan ternak khususnya ayam. Ransum diberikan setiap hari oleh peternak agar ayam bisa tumbuh. Apakah cukup tumbuh saja? Jelas tidak, pasti para peternak mengharapkan ayamnya tumbuh dengan cepat, sehat dan terbebas dari segala penyakit. Hasilnya, panen bisa maksimal dan harga jual ayam menjadi tinggi sehingga menguntungkan peternak itu sendiri. Lalu bagaimana hal tersebut bisa dicapai? Pencapaian produktivitas yang optimal salah satunya dipengaruhi oleh nutrisi ransum yang dikonsumsi. Nutrisi tersebut terdiri dari nutrisi makro dan nutrisi mikro. Hal yang menjadi persoalan selama ini adalah bahwa kebutuhan nutrisi mikro seperti vitamin dan mineral seringkali tidak tercukupi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di dalam sistem pemeliharaan ternak.
1.2. Jenis Vitamin
Berdasarkan kelarutannya vitamin terdiri dari dua macam :
  1. Vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin C dan vitamin B komplek yang terdiri dari tiamin, riboflavin, asam pantotenat, kholin, biotin, vitamin B6, B12, folasin, mio-inositol, dan asam p-aminobenzoat.
  2. Vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K.
Dengan demikian vitamin meliputi 11 jenis vitamin B komplek, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin C.
1.3. MengapaVitamin Sangat Dibutuhkan sebagai Suplemen
Berikut ini beberapa alasan, meningkatnya kebutuhanVitamin yang harus disuplementasi dalam ransum kuda :
  1. Meningkatnya program seleksi untuk memperbaiki peforman dan kecakapan berlari, sehingga perlu peningkatan kualitas gizi.
  2. Perbedaan genetic antar jenis kuda, sehingga berbeda pula dalam kebutuhan nutrient.
  3. Kekurangan nutrien tertentu dalam tanah, sehingga berpengaruh pada level nutrient yang dimakan kuda.
  4. Penagangan dan prosesing pakan mempengaruhi ketersediaan nutrient.
  5. Interaksi antar nutrient sehingga mempengaruhi kebutuhan vitamin.
  6. Perubahan kondisi lingkungan ternak sehingga meningkatkan kebutuhan nutrient.
  7. Stress dan penyakit antara lain karena kontak antar kuda.
  8. Adanya kapang pada pakan sehingga meningkatkan kebutuhan vitamin tertentu.
  9. Adanya anti metabolit pada pakan.
Suplementasi vitamin harus dberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu
dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
1.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kandungan Vitamin dalam Ransum Kuda
Vitamin diperlukan dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan nutrient lainnya, namun kekurangan vitamin dalam ransum menyebabkan gangguan metabolisme dan penyakit. Beberapa senyawa yang berfungsi sebagai precursor vitamin atau provitamin seperti β-karoten atau pro-vitamin A. Diketahui sedikitnya 15 vitamin dibutuhkan kuda. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan.
Vitamin yang terdapat dalam pakan bervariasi tergantung pada tipe tanah, iklim, pemanenan, dan penyimpanan. Hijauan berkualitas yang diperoleh pada pagi hari biasanya banyak mengandung vitamin. Defisiensi vitamin dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan kualitas buruk atau pakan tanpa suplemen vitamin. Sebagian besar vitamin yang la rut dalam air dapat disintesis dari mikroorganisme dalam usus kuda, namun tidak untuk dismpan. Beberapa diantaranya terlibat dalam metabolisme atau penggunaan lemak, protein dan karbohidrat pakan, sehingga berarti pakan yang mengandung banyak energy harus diiringi dengan banyak vitamin.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dinamika Kebutuhan Vitamin
Vitamin berasal dari kata “vitae-amine” dan didefinisikan sebagai senyawa organik yang diperlukan dalam jumlah kecil untuk menjaga fungsi metabolisme dalam tubuh tetap optimal. Vitamin sebagai salah satu bagian dari nutrisi mikro, memiliki peranan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan jenis nutrisi lainnya. Jika dilihat secara kuantitatif, persentase kebutuhan vitamin pada ransum ayam pasti lebih kecil dibandingkan dengan nutrisi lain seperti karbohidrat, protein dan lemak. Meskipun begitu, vitamin tetap wajib diberikan terkait fungsinya sebagai katalis metabolisme nutrisi makro. Dalam arti lain, bila tidak ada vitamin maka metabolisme nutrisi makro akan terhambat. Hambatan metabolisme ini akan menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi tidak optimal, terbatasnya pembentukan energi untuk beraktivitas dan tidak terjadi regenerasi sel-sel yang rusak dalam tubuh.
Pernyataan di atas dikuatkan oleh Scott et al., (1992) yang menyatakan bahwa unggas yang dipelihara dengan sistem tata laksana yang tidak baik, sangat peka terhadap kejadian defisiensi (kekurangan) vitamin. Hal tersebut disebabkan :
  1. Unggas tidak memperoleh keuntungan dari sintesis vitamin oleh mikroorganisme di dalam alat pencernaan ayam itu sendiri karena ayam harus bersaing dengan mikroorganisme dalam menggunakan vitamin tersebut. Selain itu, meskipun unggas mampu mensintesis vitamin seperti vitamin C, namun hasil sintesis tersebut sangat rendah. Rendahnya sintesis vitamin oleh unggas disebabkan saluran pencernaan unggas yang lebih pendek dan laju pencernaan ransum yang lebih cepat dibandingkan ternak lain seperti ruminansia
  2. Unggas mempunyai kebutuhan yang tinggi terhadap vitamin karena vitamin penting bagi reaksi- reaksi metabolis yang vital di dalam tubuh unggas
  3. Populasi yang padat dalam peternakan unggas modern menimbulkan berbagai macam stres. Ditambah dengan kondisi lingkungan akibat global warming, dimana cuaca selalu berubah-ubah dan tidak menentu sehingga sangat berpotensi menyebabkan ayam stres sehingga kebutuhan akan vitamin juga semakin tinggi
2.2 Vitamin Larut Lemak
Vitamin A
Vitamin ini sering disebut sebagai retinol. Secara umum Vitamin A dapat ditemukan dalam tepung ikan dan jagung. Vitamin A berfungsi dalam proses pertumbuhan, stabilitas jaringan epitel pada membran mukosa saluran pencernaan, pernapasan, saluran reproduksi serta mengoptimalkan indera penglihatan.
Defisiensi vitamin A pada ayam dapat menyebabkan ruffled feathers (bulu berdiri), ataxia (kehilangan keseimbangan saat berjalan) dan bisa berakibat pada penurunan produksi telur serta daya tetas. Bila defisiensi berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama serta tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan munculnya cairan putih susu (keruh) pada mata ayam tersebut sehingga bisa mengganggu penglihatan dan kadang terjadi kerusakan mata permanen. Selain itu defisiensi vitamin A bisa menyebabkan timbulnya bintik darah (blood spot) pada telur (Saif, 2003).
Vitamin D
Vitamin D pada produk-produk vitamin seringkali ditulis sebagai vitamin D3. Vitamin D3 atau yang lebih dikenal sebagai cholecalciferol adalah satu-satunya metabolit dari vitamin D yang bisa digunakan oleh unggas (Weber, 2009). Secara umum vitamin ini dapat ditemukan pada tepung ikan dan sinar matahari yang berfungsi sebagai prekursor. Vitamin D bermanfaat untuk metabolisme kalsium dan fosfor dalam pembentukan kerangka normal, membentuk paruh dan cakar yang keras serta kerabang telur yang kuat.
Defisiensi vitamin D akan menyebabkan metabolisme kalsium dan fosfor terhambat sehingga akan banyak ditemukan telur dengan kerabang tipis dan lembek serta paruh dan cakar yang lembek pula. Selain itu akan terjadi pula penurunan produksi telur dan situasi dimana ayam kesulitan untuk bergerak karena kakinya lemah sehingga terjadilah kelumpuhan/ricketsia.
Vitamin E
Vitamin E dapat digunakan untuk seluruh derivate tocol dan tocotrienol yang mempunyai aktivitas biologis α-tokoferol. Vitamin E disebut juga vitamin antisterilitas dan factor X. Ungkapan seperti “aktivitas vitamin E” atau “defisiensi vitamin E” sering kali digunakan. α-tokoferol disebut sebagai vitamin E semenjak diketahui mempunyai nilai nutrisi yang lebih. Misalnya jika α-tokoferol mempunyai nilai 100, maka β dan zeta tokoferol nilainya hanya kira-kira 1/3-nya; sedangkan gamma delta, epsilon dan etatokoferolhanya kurang dari 1% dari nilai α-tokoferol. Maka analisis total tokoferol pakan dapat salah faham. Satu unit IU didasarkan 1 mg d- α-tokoferol asetat sama dengan 1,36 mg dl- α- tokoferol asetat. dl-α-tokoferol asetat adalah standar internasional yang didefinisikan sebagai aktivitas1 IU per mg. Kemudian istilah 1 IU dan 1 mg dl- α-tokoferol asetat selalu dapat berubah untuk digunakan.
Vitamin E sering disebut sebagai tocopherols dan sering ditemukan dalam biji kedelai, biji gandum dan CGM (corn gluten meal). Vitamin E bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan. Defisiensi vitamin E akan menyebabkan menurunnya fertilitas dan daya tetas, encephalomalacia/crazy chick disease (penyakit ayam gila), serta kelainan pada koordinasi otot.
Vitamin K
Nama/sebutan lain vitamin K adalah : vitamin antihemoragic, vitamin pembeku darah, factor protrombin, philloquinon, dan 2-metil-1,4-naftoquinon. Vitamin K digunakan untuk 2-metil-1,4-naftoquinon dan turunannya, yang secara aktivitas biologisnya disebut fityl-menoquinon (philloquinon). Istilah ‘aktivitas Vitamin K” dan “defisiensi Vitamin K” lebh sesuai digunakan. Beberapa senyawa mempunyai struktur yang sama dan semuanya mempunyai aktivitas sebagai vitamin K. Di alam, ada dua bentuk yang dapat diisolasi, yaitu K1, dan K2. Selain itu beberapa senyawa sintetis telah dipreparasi mempunyai aktivitas vitamin K, satu diantaranya adalah 2-metil-1,4-naftoquinon., yang disebut menadion yang lebih aktif dibanding K1. Beberapa senyawa vitamin K sintetis larut dalam air, berbeda sekali dengan K1, dan K2 yang larut dalam lemak.
Vitamin K dapat ditemukan pada tepung ikan. Vitamin K berfungsi dalam pembentukan protrombin yang nantinya digunakan untuk pengaturan proses pembekuan darah. Defisiensi vitamin K akan menyebabkan perdarahan pada jaringan/organ tertentu (hemoragi) serta anemia akibat darah yang sukar membeku saat terjadi luka pada bagian tubuh yang terbuka (Saif, 2003).
2.3 Vitamin Larut Air
Vitamin B1 (thiamin)
Vitamin B1 sering disebut juga sebagai aneurin terkait dengan sifat antineuritis (anti radang urat syaraf) yang dimilikinya. Vitamin B1 berfungsi untuk membantu proses metabolisme karbohidrat dan energi dalam tubuh. Defisiensi vitamin ini menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat serta terjadi pembengkakan pada sistem syaraf (Roche, 1979).
Keterbatasan cadangan tiamin dalam tubuh menyebabkan perlunya supply tiamin. Fungsi tiamin sebagai penyusun system enzim dan esensial untuk menyokong penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi untuk tubuh. Perombakan karbohidrat meningkat selama balapan/pacu atau performan, sehingga adalah penting mencukupi ketersediaan tiamin. Toksisitas tiamin belum ada laporan. Kelebihan tiamin segera disekresikan melalui urin, namun demikian kelebihn tiamin dalam ransum perlu dhindari.
Vitamin B2 (riboflavin)
Vitamin B2 berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, asam amino dan asam lemak. Vitamin ini dapat ditemukan pada tepung daging dan tepung ikan. Defisiensi vitamin B2 menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi lambat, lemas dan ayam mengalami kesulitan berjalan. Gejala yang paling dikenal adalah kelumpuhan pada kaki (leg paralysis) atau kelumpuhan pada jari kaki (curled toe paralysis). Beberapa gejala tersebut akhirnya akan berakibat pada menurunnya produksi telur dan daya tetas (Saif, 2003).
Defisiensi riboflavin menyebabkan penurunan tngkat pertumbuhan dan penggunaan pakan. Rboflavin esensial sebagai penyusun system enzim dalam tubuh. Penting dalam meningkatkan penggunaan energi pakan dan nutrient dalam ransum. Belum terdefinisikan berapa banyak ribovlavin dapat memperbaiki ophtalmia. “ophtalmia Periodik” dapat menyebabkan kerusakan mata, katarak, dan kebutaan.
Vitamin B3 (nicotinamide)
Vitamin B3 atau lebih dikenal sebagai niasin atau nicotinamide berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi. Vitamin ini dapat ditemukan pada jagung, biji bunga matahari dan hampir semua bungkil biji-bijian. Kekurangan vitamin B3 menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan lambat, turunnya produksi telur dan daya tetas, membran mukosa menjadi berwarna merah gelap, perubahan pada tulang paha serta kadang terjadi diare yang disertai darah.
Vitamin B5 (asam pantotenat)
Vitamin B5 atau yang lebih dikenal sebagai asam pantotenat berfungsi sebagai komponen koenzim A dalam metabolisme karbohidrat, asam lemak, asam amino dan steroid. Asam pantotenat banyak terkandung dalam bungkil biji bunga matahari. Defisiensi asam pantotenat akan menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti paruh, kelopak mata dan jari kaki, warna bulu menjadi kasar dan buram, serta menyebabkan turunnya produksi dan daya tetas telur.
Vitamin B6 (piridoxin)
Nama lain dari Vitamin B6 adalah “yeast evaluate factor”, adermia, faktor anti acrodenia pada tikus. Selanjutnya sebutan Vitamin B6 yang mempunyai aktivitas biologis “Aktivitas Vitamin B6” dan ”defisiensi Vitamin B6” lebih tepat digunakan. Vitamin B6 termasuk tiga senyawa : piridoksin, pyridoksal, dan pyrdoksamin, juga ada bentuk lain pyridoksin. Aktivitasnya ketiga senyawa tersebut sama dalam tubuh ternak. Namun sangat berbeda aktivitasnya pada beberapa mikroorganisme. Pada ragi, organ glandular, dan daging sebagian besa vitamin B6 ada dalam bentuk pyridoksal, dan pyrdoksamin. Jadi mempelajari vitamin harus mengingat bentuk keberadaan vitamin dalam pakan kekefektifannya responnya terhadap ternak dan mikroorganisme. Namun pada kuda belum ada informasi tentang bentuk keefektifannya.
Vitamin B6 atau piridoxin berfungsi untuk metabolisme protein dan lemak dalam tubuh. Vitamin B6 dapat ditemukan hampir disemua bungkil biji-bijian. Selain menyebabkan nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat, defisiensi vitamin B6 ini akan menyebabkan bulu tumbuh jarang (tidak merata) dan kasar, produksi telur serta daya tetas telur menurun (Roche, 1979).
Fungsi Vitamin B6 berhubungan dengan system enzim dan berperan dalam penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam mencerna pakan. Tanpa adanya Vitamin B6 asam amino trptofan tidak dapat digunakan oleh ternak. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan kegagalan reproduksi, anemia, dermatitis, degenerasi sel saraf dan gangguan penglihatan.
Vitamin B9 (asam folat)
Vitamin B9 atau yang lebih sering disebut sebagai asam folat berfungsi untuk metabolisme karbohidrat. Asam folat dapat ditemukan pada biji gandum. Defisiensi asam folat akan menyebabkan pertumbuhan lambat, anemia, menurunnya daya tetas serta bulu yang kasar dan jarang (Roche, 1979).
Vitamin B12 (cyanocobalamin)
Vitamin B12 atau sering disebut sebagai cyanocobalamin berfungsi untuk metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Tidak seperti vitamin B lainnya, vitamin B12 bisa terakumulasi di jaringan, utamanya di hati dan sedikit di ginjal, otot, tulang dan kulit (Weber, 2009). Defisiensi vitamin B12 akan mengakibatkan pertumbuhan lambat, ukuran telur kecil-kecil dan daya tetas menurun.
Fungsi Vitamin B12 berhubungan dengan penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam penggunaan pakan. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan reproduksi, anemia, inkordinasi bagian posterior, langkah tidak tetap, rendahnya nafsu makan, hiperiritbilitas, dan bulu kasar. Defisiensi Vitamin B12 tidak ditemukan pada kuda. Beberapa penyakit defisiensi ditemukan pada hewan lain, bukan pada kuda.
Biotin
Biotin sering dikenal sebagai Vitamin B7. Vitamin ini berfungsi dalam metabolisme karbohidrat dan lemak dalam produksi energi. Biotin dapat ditemukan pada tepung ikan dan biji gandum. Defisiensi biotin menyebabkan kulit mengeras pada daerah paruh dan mata (hampir sama seperti pada saat terjadi defisiensi asam pantotenat). Selain itu bisa terjadi juga kelainan pada tulang rawan dan menurunnya daya tetas.
Vitamin C (asam askorbat)
Vitamin C disebut juga asam askorbat, asam “Cevitamic”, antiskorbut, skorbutamin, dan asam heksuronat. Sebutan vitamin C digunakan untuk seluruh senyawa yang mempunyai aktivitas biologi asam askorbat. Satu unit vitamin C adalah aktivitas yang terkandung dalam 0,05 mg vitamin. Jadi 1 mg vitamin C setara dengan 20 IU vitamin C. Aktivitas vitamin C biasanya diekspresikan dalam miligram vitamin C. Vitamin C ini berfungsi untuk metabolisme sel dan sebagai anti oksidan. Defisiensi vitamin C tidak terjadi pada ternak namun vitamin C bermanfaat dalam situasi ayam yang stres karena panas atau kondisi lain (Weber, 2009).
Tabel 1 adalah tabel rekomendasi kadar vitamin yang dibutuhkan berdasarkan National Research Council (NRC), AWT German Trade Association dan DSM Vitamin Suplementation Guidelines yang dihitung berdasarkan pemberian makan harian dalam range 80 hingga 120 gram per hari. NRC menentukan jumlah minimum vitamin yang dibutuhkan sedangkan AWT dan DSM merekomendasikan suplementasi vitamin di atas kadar alami vitamin dalam ransum (Weber, 2009).
2.4 Hubungan Manajemen Penyimpanan Ransum dengan Defisiensi Nutrisi
Dalam suatu formulasi ransum, kadar vitamin dalam ransum umumnya telah disesuaikan dengan jumlah kebutuhan vitamin bagi unggas dan mampu dicukupi melalui asupan ransum yang berasal dari pabrikan. Namun pada kenyataannya, kadar vitamin tersebut dapat hilang pada waktu bahan pakan diproses atau selama ransum disimpan dalam gudang penyimpanan.
Potensi vitamin juga bisa menurun akibat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu yang ekstrim, cahaya dan oksidasi. Contohnya saja vitamin seperti A, D, E dan C yang tidak stabil terhadap panas, cahaya dan kelembaban. Vitamin B1 dan asam pantotenat juga bisa rusak akibat pengolahan atau penyimpanan ransum yang kurang baik. Karena alasan itulah, maka sulit untuk menjamin bahwa vitamin akan stabil kadarnya dalam ransum terlebih jika ransum menjalani proses pengangkutan yang cukup jauh.
Untuk memastikan bahwa ransum yang kita berikan pada ayam tidak mengalami defisiensi vitamin, maka salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah dengan mengatur manajemen penyimpanan ransum melalui tindakan sebagai berikut :
  1. Berikan alas (pallet) pada tumpukan ransom
  2. Atur posisi penyimpanan ransum sesuai dengan waktu kedatangannya (first in first out, FIFO)
  3. Simpan ransum dalam tempat yang tertutup dan terhindar dari sinar matahari langsung
  4. Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan ransom
  5. Sebaiknya ransum disimpan dalam gudang penyimpanan tidak lebih dari 30 hari agar kualitas nutrisi, termasuk vitamin, di dalamnya tidak menurun
  6. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin
  7. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur
2.5 Stres dan Vitamin
Indonesia memiliki iklim tropis dengan 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kondisi musim yang tidak menentu akhir-akhir ini semakin membuat ayam tidak nyaman dan mudah sekali mengalami stres. Kondisi stres akibat pengaruh perubahan cuaca sangat berperan besar memunculkan kasus defisiensi vitamin, karena saat stres tubuh akan kehilangan sejumlah besar vitamin.
Ayam memang merupakan ternak yang sangat rentan terhadap stres. Dampak nyata stres pada ayam apabila tidak ditangani dengan baik adalah penurunan produksi, baik berupa telur bagi ayam petelur maupun penurunan berat badan bagi ayam pedaging. Hal ini disebabkan turunnya nafsu makan dan minum sehingga kekebalan tubuh ayam berkurang dan akibatnya ayam menjadi mudah terserang penyakit. Faktor penyebab stres selain faktor cuaca diantaranya adalah :
  • Sirkulasi udara dalam kandang yang tidak baik
  • Suhu dan kelembaban dalam kandang meningkat
  • Populasi ayam dalam kandang yang terlalu padat
  • Suara bising
  • Kekurangan ransum
  • Pergantian ransum mendadak
  • Vaksinasi
  • Perlakuan kasar, potong paruh, pindah kandang, dll
Salah satu kejadian stres yang seringkali ditemukan di lapangan ialah kejadian heat stress. Data yang diperoleh oleh tim Technical Service Medion (2010) melaporkan bahwa kejadian heat stress pada ayam pedaging dan petelur masing-masing sebesar 0,41% dan 0,6% dari total kejadian penyakit di tahun 2010. Ayam yang terserang stres dapat dipulihkan kondisinya dengan cara menghilangkan faktor penyebab stres tersebut. Namun demikian, ternyata vitamin berperan besar dalam hal ini karena proses pemulihan stres sangat didukung oleh pemberian vitamin. Pemberian vitamin dapat mempertinggi ketahanan tubuh ayam saat stres serta menjaga proses metabolisme tubuh berjalan dengan normal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ayam komersial saat ini sangat rentan terhadap stres, baik itu stres yang disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan yang kurang baik maupun stres akibat pengaruh cuaca/suhu lingkungan. Oleh karena itu, suplementasi vitamin tentu sangat diperlukan. Vitamin dapat ditambahkan ke dalam ransum maupun ke dalam air minum ayam. Vitamin biasanya dapat diberikan ketika ayam pertama kali chick in (masuk ke kandang), sebelum dan setelah vaksinasi, setelah pengobatan, ketika sakit, pindah kandang, cuaca buruk dan saat pergantian ransum.
Berbagai produk vitamin telah banyak dijual di pasaran, salah satunya ialah Vita Stress yang diproduksi oleh Medion. Vita Stress mengandung vitamin lengkap (vitamin A, D3, E, K. B1, B2, B6, B12, C, nicotinic acid dan calcium-D-pantothenate) dan elektrolit (natrium, kalium, kalsium dan magnesium) yang dibutuhkan oleh ayam untuk menambah daya tahan tubuh dan mencegah stres pada waktu sebelum dan sesudah vaksinasi, setelah potong paruh, pindah kandang, penggantian ransum, cuaca yang buruk dan pada musim rontok bulu. Vita Stress juga bisa mencegah terjadinya defisiensi vitamin pada ayam yang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi telur dan gangguan pertumbuhan bulu.
III. KESIMPULAN
Vitamin yang dibutuhkan oleh kuda terdiri atas 11 jenis vitamin B kompleks, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak, dan vitamin C. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan, namun defisiensi dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan berkualitas rendah atau pakan yang tidak ditambah suplemen vitamin. Sebagan besar vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin C dan vitamin B komplek dapat disintesis oleh mikroorganisme dalam usus ternak ruminan, namun tidak untuk disimpan. Jumlah yang disintesis tergantung dari jenis vitamin dan jenis ransum yang dimakan. Suplementasi vitamin harus diberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
Walaupun dapat disintesis oleh kuda, vitamin C sangat dibutuhkan terutama saat cuaca panas, kondisi stress selama percepatan pertumbuhan atau memperbaiki performan, dan jika ada factor penghambat sintesis vitamin C. Pada situasi tertentu, seperti kerja berat (selama latihan), balapan, atau perbaikan performan, suplementasi vitamin B kompleks menguntungkan. Sejauh ini toksisitas vitamin belum ada laporan karena kelebihannya segera dieksresikan dan keluar bersama feses. Setelah mengenal lebih mendalam mengenai jenis dan fungsi vitamin serta dinamika kebutuhannya, kita menjadi lebih paham bahwa sebenarnya ternak kita sangat memerlukan vitamin yang sesuai dengan dosis yang cukup. Ingat, bahwa ada banyak risiko dan kerugian yang ditimbulkan bila ternak kita sudah mengalami defisiensi vitamin, oleh karena itu marilah kita lakukan tindakan preventif dengan mengatur kembali tata laksana pemeliharaan ayam baik dari penyimpanan ransum, manajemen stres lingkungan dan ketepatan penggunaan vitamin.
DAFTAR PUSTAKA
Cunha, T.J. 1980. Horse Feeding and Nutrition. Academic Press New York London,
Toronto, Sydney, San Fransisco.
NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National
Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA.
Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung.
Pilliang, W.G. 1995. Nutrisi Vitamin. Volume II. Penerbit IPB, Bogor.
Pilliner, S. 1992. Horse Nutrtion and Feeding. Blackwell Science, Australia.

Tidak ada komentar: