Total Tayangan Laman

Rabu, 13 Juni 2012

PEMELIHARAAN SAPI BUNTING DAN LAKTASI

PEMELIHARAAN SAPI BUNTING DAN LAKTASI
I. MADE ADI JAYA

BAB I

PENDAHULUAN

 

Berkembangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan gizi dan bertambahnya tingkat pendapatan masyarakat, menyebabkan permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat. Pemeliharaan sapi perah beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Susu yang diproduksi selama ini belum memenuhi kebutuhan konsumsi, dikarenakan populasi sapi perah yang relatif masih sedikit. Produktivitas sapi perah yang sudah ada masih belum memuaskan karena pemuliaannya belum dilaksanakan secara lebih terarah.
Ditinjau dari permasalahan dan tujuan penelitian maka tipe penelitian yang akan dilaksanakan adalah tipe penelitian Kaji Tindak (action research) yaitu penelitian yang dilakukan bersama-sama peneliti dan pelaku dalam mengidentifikasi masalah dan mencari strategi terbaik dalam melakukan suatu usaha peternakan yang ramah lingkungan. Sumber data penelitian ini adalah pemilik, pekerja, Dinas Lingkungan Hidup Kudus, masyarakat sekitar peternakan serta penggunjung peternakan. Teknik pengumpulan data adalah metode rapid appraisal yang meliputi: Group Interview, Informal Surveys serta Observasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan statistic sederhana dan dibuat dalam bentuk narasi sehingga menunjukan kualitas atau fenomena yang menjadi objek penelitian.
Seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan gizi dan bertambahnya tingkat pendapatan masyarakat, menyebabkan permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat. Pemenuhan tingkat gizi tersebut diantaranya berasal dari produk–produk peternakan. Sapi perah merupakan salah satu komoditi peternakan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan bergizi tinggi. Pemeliharaan sapi perah beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini senantiasa didorong oleh pemerintah agar swasembada susu tercapai secepatnya. Untuk memenuhi kebutuhan susu secara nasional, perkembangan sapi perah perlu mendapatkan pembinaan yang lebih mantap dan terencana dari pada tahun - tahun yang sudah. Hal ini akan dapat terlaksana apabila peternak - peternak sapi perah dan orang yang terkait dengan pemeliharaan sapi perah bersedia melengkapi diri dengan pengetahuann tentang pemeliharaan sapi perah.
Susu yang diproduksi selama ini belum memenuhi kebutuhan konsumsi, dikarenakan populasi sapi perah yang relatif masih sedikit, produktivitas sapi perah yang sudah ada masih belum memuaskan karena pemuliaannya belum dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan serta tingkat pengetahuan peternak sapi perah pada umumnya belum memadai dalam pengelolaan sapi perah berproduksi tinggi.
Usaha peternakan sapi perah, dengan skala lebih besar dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi tetap akan menimbulkan masalah terhadap lingkungan (SK.Mentan. No.237/Kpts/RC410/ 1991 tentang batasan usaha peternakan yang harus melakukan evaluasi lingkungan). Hal ini diperkuat dengan UU No 23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berisi tentang setiap rencana usaha yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan, sedangkan untuk rencana usaha atau kegiatan yang menimbulkan danpak kurang penting terhadap lingkungan cukup menyusun UKL atau UPL. Populasi sapi perah di Indonesia terus meningkat dari 334.371 ekor pada tahun 1997 menjadi 368.490 ekor pada tahun 2001 dan limbah yang dihasilkan pun akan semakin banyak (BPS, 2001). Satu ekor sapi dengan bobot badan 400–500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari. Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Soehadji, 1992).
Menurut BAPEDAL Pusat (1998). Produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan terus menerus pada proses produksi dan praproduksi, sehingga mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan. Produksi bersih tidak hanya menyangkut proses produksi, tetapi juga menyangkut pengelolaan seluruh daur hidup produksi, yang dimulai dari pengadaan bahan baku dan pendukung, proses dan operasi, hasil produksi dan limbahnya sampai ke distribusi serta konsumsi. Semua industri di seluruh dunia semakin menyadari keuntungan yang dapat diperoleh dari produksi bersih dan mereka telah mengembangkan program tersebut di perusahaannya. Pada proses pemeliharaan sampai proses produksi, peternakan sapi perah Moeria Kudus masih kurang memperhatikan efisiensi dalam penggunaan air, pakan hijauan serta penerapan pemerahan yang benar, sehingga diharapkan dengan penerapan produksi bersih mampu mengurangi jumlah air yang dibuang, pemberian pakan hijauan yang benar-benar sesuai untuk ternak serta mampu melakukan pemerahan yang benar sehingga produksi susu bisa meningkat dan jauh dari penyakit.
Pada peternakan Moeria kudus, limbah padat yang dihasilkan sangat banyak dan tempat penampungan limbah yang ada kurang memadai sehingga banyak limbah padat yang terbuang ke aliran sungai sehingga ada indikasi mencemari lingkungan sekitar, serta dengan pemakaian air dengan jumlah yang sangat banyak akan mengakibatkan ikut melarutkan limbah padat yang berada di bak penampungan limbah gampang terbuang ke badan sungai. Masyarakat sekitar tidak merasakan gangguan selama ini, tetapi ada kalanya limbah yang terbuang mengganggu estetika pemandangan, oleh karena itu peternakan melakukan pembersihan selokan menuju ke badan sungai setiap minggunya untuk menghindari keresahan masyarakat sehingga usaha pemerahan susu sapi Moeria Kudus bisa berjalan dengan baik di lingkungan sekitar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sapi Friesien Holstein
Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) merupakan hasil persilangan antara sapi FH dengan sapi lokal, dengan ciri - ciri yang hampir menyerupai FH tetapi produksi susu relatif lebih rendah dari FH dan badannya juga lebih kecil (Siregar, 1995). Hasil dari persilangan tersebut mempunyai sifat diantara kedua induknya, dimana pertambahan bobot badan cukup tinggi serta mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis secara baik (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Sapi FH sangat menonjol karena banyaknya jumlah produksi susu namun kadar lemaknya rendah, kapasitas perut besar sehingga mampu menampung pakan banyak, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengubah pakan menjadi susu (Blakely dan Bade, 1998).
2.2. Pengertian Perkandangan
Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukkan sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas bangunan utama (kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang isolasi) dan perlengkapan lainnya (Sugeng, 1998). Kandang sapi perah terdiri atas kandang untuk sapi induk, kandang pejantan, kandang pedet serta kandang isolasi (Williamson dan Payne, 1993). Sistem perkandangan ada dua tipe yaitu stanchion barn dan loose house. Stanchion barn yaitu sistem perkandangan dimana hewan diikat sehingga gerakannya terbatas sedangkan loose house yaitu sistem perkandangan dimana hewan dibiarkan bergerak dengan batas – batas tertentu (Davis, 1962).
2.3 Perawatan Sapi Bunting
Hal utama yang penting diperhatikan pada sapi perah bunting adalah ransum dan kesehatan, sapi perah bunting yang mendapat ransum yang baik, dalam kuantitas dan kualitas, serta kesehatan yang trepelihara baik akan melahirkan pedet yang sehat dan kuat (Siregar, 1995).
Sapi yang bunting banyak sekali memerlukan gerak badan untuk itu dilepaskan di padang terbuka atau dibawa jalan-jalan dengan maksud supaya peredaran darah menjadi lebih lancar sehingga kesehatan anak yang dikandang lebih terjamin, kesulitan dalam melahirkan dapat dihindarkan dan terjadinya Retentiosecundinarum (ketinggian ari) dapat dicegah. Dua bulan menjelang kelahirn yaitu, pada kebintingan 7 bulan yang kebetulan sedang laktsi harus dikeringkan walaupun produksinya masih tinggi sebab waktu 2 bulan itu diperlukan sapi tresebut untuk mempersiapkan laktasi yang akan datang.
Pengeringan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : 1). Pemerahan berselang, 2). Pemerahan tak lengkap, 3). Penghentian pemberian konsentrat dengan tiba - tiba dibarengi dengan pemerahan bersela (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
Induk sapi bunting perlu di berikan kesempatan berolahraga dengan cara dilepas di lapangan penggembalaan secara teratur selama 1 - 2 jam setiap hari.Dengan demikian, induk tersebut dapat bergerak secara leluasa, mendapatkan sinar matahari dan udara segar serta urat menjadi terlatih sehingga peredaran darah berjalan lancar yang kesemuanya ini akan menunjang kelancaran proses kelahiran pedet.

Pemberian pakan tidak baik selama induk bunting akan mempengaruhi kesehatan dan produksi susu.oleh karena itu,induk sapi yang sedang bunting harus di upayakan agar selalu dalam ke adaan kenyang, lebih lebih bagi induk yang di pelihara dalam kandang secara terus menerus. Dua sampai tiga hari sebelum induk melahirkan perlu di berikan pakan khusus yang memenuhi standart kualitas dan kuantitasnya supaya memudahkan kelahiran pedetnya.pakan yang kandungan proteinnya terlalu rendah sebaiknya jangan di berikan karena akan menggangu kelahiran pedet.Disarankan peternak memberi pakan yang kadungan energinya tinggi dan ditambahkan molase untuk membantu kelancaran pada saat melahirkan pedetnya. ciri ciri sapi yang akan beranak :
  • Badannya memanjang 
  • Perutnya menurun
  • Vulvanya bengkak
Induk - induk sapi menjelang melahirkan memiliki kelainan tingkah laku dan mengalami perubahan fisk ini di tandai dengan: ambing membesar,keras dan kencang. sapi nampak gelisah karena kesakitan,maka induk sebentar berdiri,kemudian berbaring lagi. kaki belakang sulit di gerakkan dan posisi kedua kaki tersebut agak terbuka keluar. bibir kemaluan membesar. tubuh tampak memanjang sedangkan perut turun ke bawah. jika putting di pijat,pertama tama keluar cairan berwarna seperti air kental kemudian berubah menjadi susu biasa.  Kelahiran abnormal sering terjadi pada sapi sapi yang berukuran besar,pemeliharaannya di kandangkan secara terus menerus,sapi yang terlalu mudah,masa kebuntingan yang terlalu lama,kelahiran kembar,infeksi uterus,kematian fetus dll.
Faktor faktor yang menyebabkan distokia adalah:
  • secara genetis,induk tersebut memiliki kecenderungan mengalami distokia.
  • adanya gen gen resesif pada induk dan pejantan yang dapat menghasilkan foetus tidak sempurna.
  • sapi dara yang mengalami kekurangan gizi pakan sehingga ukuran tubuhnya kecil.
  • induk sap di kawinkan terlalu awal/muda.
  • alat reproduksi mengalami infeks misal pada dinding terus.
  • posisi foetus yang tidak benar dalam uterus,misal kaki terlipat atau leher dan kepala trlipat ke samping.
Pada saat saat induk menjelang melahirkan,peternak harus menciptakan kondisi lingkungan yang bersih,hyginis,tenang,dan nyaman.oleh karena itu,beberapa kegiatan harus dilakukan oleh peternak yaitu:
  • mengupayakan kandng harus selalu bersih,kering dan hangat.
  • membuat ukuran kandang yang lebih longgar.maka pada saat induk melahirkan induk dapat di lepas.
  • menjauhkan dari segala hal yang mengejutkan,baik yang bersifat fisik berupa benturan,di pukul,jatuh tergelincir,dan kemungkinan tadukan sesama sapi.suara - suara gaduh.
  • memandikan induk bunting dengan larutan pencuci hama yang sifatnya ringanuntuk menghindari organisme penyebab scours yang dapat mengancam keselamatan pedet.
Untuk mempersiapkan yang baik,peternak harus mengetahui lamanya kebuntingan.pada umumnya kebuntingan rata - rata 285 hari,akan tetapi dapat bervariasi pad setiap induk sapi.hal ini di sebabkan oleh faktor al:
  • iklim
  • perawatan
  • pakan 
  • dan bangsa sapi.
Hal utama yang penting diperhatikan pada sapi perah bunting adalah ransum dan kesehatan. Sapi perah bunting yang mendapat ransum yang baik, dalam arti kuantitas dan kualitas, serta kesehatan yang  terpelihara baik akan melahirkan pedet yang sehat dan kuat.
Perhatian terhadap ransum penting dilakukan terutama setelah umur kebuntingan lebih dari 2 bulan. Sebab sapi perah bunting harus mempersiapkan perkembangan foetus yang dikandungnya dan memperbaiki kondisi tubuhnya sendiri untuk laktasi yang berikutnya.
Sapi perah bunting harus mendapat  energi yang cukup, tapi jangan berlebihan. Sapi perah bunting yang mendapat energi berlebihan akan kegemukan dan biasanya mengalami kesukaran melahirkan (distokia).
Penyediaan protein dalam tubuh lebih terbatas dibandingkan penyediaan energi. Oleh karena itu protein harus cukup tersedia dalam ransum yang diberikan. Kekurangan protein dapat menyebabkan menurunnya ketahanan tubuh terhadap penyakit dan kematian pada pedet yang dilahirkan.
Berbagai jenis penyakit yang dapat mengganggu kesehatan sapi perah bunting dan foetus yang dikandungnya harus dapat dicegah. Penularan beberapa jenis penyakit melalui viral dapat menimbulkan infeksi pada plasenta dan foetus. Akibat pedet yang dilahirkan mati atau dalam keadaan lemah dan akhirnya mati. Infeksi dapat pula terjadi pada uterus sapi perah yang sedang bunting dan kemudian menimbulkan infeksi pula pada plasenta dan foetus.
Pencegahan penyakit pada sapi perah bunting  maupun sapi perah lainnya, dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, dan orang yang memelihara/merawatnya. Kandang harus dijaga supaya tetap bersih. Ada baiknya pada waktu-waktu tertentu lantai kandang dibersihkan dengan menggunakan karbol atau densol, tetapi dijaga agar jangan sampai membahayakan sapi.
Pembuangan air dalam kandang harus tersalur dengan baik dan diusahakan agar tidak terjadi genangan air di dalam dan di sekitar kandang. Kandang yang selalu terjaga kebersihannya, akan membuat sapi-sapi yang ada di dalam kandang selalu bersih. Sapi perah sebaiknya dimandikan setiap pagi. Hal ini perlu karena pada malam hari kandang tidak dibersihkan, sehingga kotoran sapi yang ada pada malam hari akan menempel pada badan sapi, pada saat sapi sedang tidur atau berbaring.
Peralatan kandang yang digunakan sehari-hari, setiap selesai digunakan harus dibersihkan dan ditaruh pada tempat yang bersih dan aman.  Pada waktu ada wabah penyakit  berjangkit, peralatan-peralatan kandang perlu dibersihkan dengan menggunakan desinfektan. Hindarkan meminjam ataupun meminjamkan peralatan kandang pada peternak lain.
Kesehatan pekerja yang merawat sapi harus selalu terjaga baik dan dijaga jangan sampai sapi-sapi perah tertular penyakit  tertentu dari orang yang merawatnya.
Lama kebuntingan pada sapi perah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain bangsa atau breed, umur, frekwensi beranak, dan kelamin anak yang dikandung. Beberapa di antara bangsa sapi perah menunjukan lama kebuntingan sebagai berikut :
LAMA KEBUNTINGAN RATA-RATA
DARI BEBERAPA BANGSA SAPI PERAH
Bangsa
Lama Bunting (hari)
Ayrshire
Brown Swiss
Guernsey
Frisian Holstein
Jersey
278
288
283
279
278
       Sumber : Reaves & Henderson 1963
Anak jantan dikandung lebih lama sekitar 1 – 3 hari dibanding dengan anak betina. Sapi perah yang baru pertama kali beranak, lama kebuntingannya lebih singkat sekitar 2 hari dibandingkan sapi perah induk yang sudah sering beranak. Beberapa hari sebelum melahirkan, sapi perah bunting hendaknya ditempatkan pada kandang yang lantainya telah diberi jejabah seperti jerami kering, rumput kerinng, dsb. Kandang beranak harus terbebas dari segala gangguan, baik pada sapi perah yang akan melahirkan maupun pada anak yang dilahirkan. Agar saat-saat melahirkan dapat diketahui,  Tanggal perkawinan perlu dicatat. Pada saat menjelang kelahiran,  puting susu akan membengkak. Pengawasan terhadap sapi yang akan melahirkan harus lebih diperketat.
Sejak awal kebuntingan, sapi perahbunting memerlukan perhatian penuh dari peternak, karena nantinya harus dapat melahirkan pedet yang sehat dan kuat.Pedet yang unggul berasal dari Foetus yang dapat berkembang dengan baik di dalam kandungan sapi induknya. Selain itu, perlakuan yang baik dan benar padasapi bunting diperlukan agara nantinyaternak sapi bunting tersebut dapat dengan cepat memperbaiki kondisi tubuhnya untuk laktasi berikutnya.
Hal utama yang harus diperhatikan adalah :
  1. Ransum ; Kualitas dan kuantitas pakan/ransum yang diberikan pada sapi bunting, nutrisinya harus mencukupi, namun tidak boleh berlebihan. Energi dari pakan yang berlebih akan menyebabkan sapi bunting menjadi gemuk, yang nantinya akan menyulitkan pada saat melahirkan. Kontrol terhadap protein pakan juga harus diperhatikan, kekurangan protein akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan pedet yang dilahirkan memiliki resiko kematian yang lebih tinggi.
  2. Kesehatan ; Sapi yang sedang bunting rawan terhadap serangan penyakit melalui viral, yang mengakibatkan infeksi pada uterus dan kemudian pada plasenta dan foetus. Pedet yang dilahirkan akan lemah dan akhirnya mati. Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan sapi perah bunting adalah kebersihan. Yang harus mendapat perhatian adalah kebersihan pada :
    • Badan sapi ; sapi bunting sebaiknya dimandikan minimal satu kali sehari pada setiap pagi. Kandang Sapi ; lantai kandang harus selalu dibersihkan dengan air atau desinfektan yang tidak membahayakan sapi. Selain itu, saluran pembuangan air (drainase) kandang harus lancar, agar kandang selalu dalam kondisi kering.
    • Peralatan kandang ; harus langsung dibersihkan setelah selesai digunakan (akan lebih baik jika menggunakan desinfektan),kemudian diletakkan pada tempat yang bersih dan aman. Hindari meminjam atau meminjamkan peralatan pada peternak lain agar penyakit tidak menyebar.
    • Pekerja kandang ;  Banyak kasus sapi yang sedang bunting tertular penyakit melalui pekerja yang merawatnya. Oleh sebab itu kesehatan pekerja harus selalu terjaga. Jika ada pekerja yang sakit, segera istirahatkan dan tidak boleh masuk ke kandang.
2.4 Perawatan Sapi Laktasi
Kandang dibersihkan setiap hari agar sapi senantiasa bersih dan bebas dari kotoran sehingga susu yang diperoleh tidak rusak dan tercemar. Sebelum melakukan pemerahan dilakukan pembersihan lantai kandang, tempat pakan, tempat minum, dan kemudian membersihkan bagian ambing. Hal ini dilakukan karena susu mudah menyerap bau. Pada permulaan laktasi, bobot badan akan mengalami penurunan, karena sebagian dari zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk pembentukan susu diambil dari tubuh sapi. Pada saat itu juga sapi laktasi mengalami kesulitan untuk memenuhi zat-zat makanan yang dibutuhkan sebab nafsu makannya rendah, oleh karena itu pemberian ransum terutama konsentrat harus segera ditingkatkan begitu nafsu makannya membaik kembali (Siregar, 1995).
BAB III
PEMBAHASAN
Ransum
Kualitas dan kuantitas pakan/ransum yang diberikan pada sapi bunting, nutrisinya harus mencukupi, namun tidak boleh berlebihan. Energi dari pakan yang berlebih akan menyebabkan sapi bunting menjadi gemuk, yang nantinya akan menyulitkan pada saat melahirkan. Kontrol terhadap protein pakan juga harus diperhatikan, kekurangan protein akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan pedet yang dilahirkan memiliki resiko kematian yang lebih tinggi. Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik akan memberikan produksi susu yang optimal. Perusahaan sapi perah Moeria Kudus memberikan pakan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan adalah rumput gajah yang didapatkan dari petani rumput sekitar, sedangkan konsentrat diperoleh dari masyarakat sekitar pada saat panen raya.
Hijauan diberikan dua kali sehari setelah pemerahan dilakukan sebanyak 18 kg BS rumput Gajah/ekor/hari, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa hijauan diberikan sepanjang hari secara ad libitum, di Moeria Kudus kekurangan hijauan digantikan dengan Dedak yaitu sebanyak 10 kg/ekor/hari yang diberikan satu kali sehari pada waktu sore hari. Konsentrat diberikan satu kali sehari setelah pemerahan sebanyak 30 kgBS/ekor/hari dalam bentuk komboran yang merupakan campuran konsentrat, dedak, ampas tahu dan ketela, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa pemberian konsentrat dilakukan dua kali sehari sebelum pemerahan. Fungsi utama dari pemberian konsentrat adalah mensuplai energi tambahan yang diperlukan untuk produksi susu secara maksimum dan mengatur atau menyesuaikan tingkat protein suatu ransum tertentu.
Pemberian pakan konsentrat memiliki persentase yang lebih tinggi dari pada hijauan, hal ini dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bagi sapi perah. Pengaturan pemberian pakan di peternakan sapi perah Moeria kudus adalah konsentrat 15.381 kg BK : hijauan 3,78 KgBK/ekor/hari sehingga perbandingan hijauan : Konsentrat adalah 19,72 % : 80,28% dalam KgBK atau 46,2 % : 53,8 % dalam KgBS Pemberian air minum secara ad libitum sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1994) bahwa pada pemeliharaan sapi perah, air minum harus selalu ada atau tersedia karena air mempunyai fungsi sangat vital. Fungsi dari air untuk sapi perah adalah sebagai zat pelarut dan pengangkut zat makanan, membantu proses pencernakan, penyerapan dan pembuangan hasil metabolisme, memperlancar reaksi kimia dalam tubuh, pengatur suhu tubuh dan membantu kelancaran kerja syaraf panca indra.
Kesehatan dan Sanitasi
Sapi yang sedang bunting rawan terhadap serangan penyakit melalui viral, yang mengakibatkan infeksi pada uterus dan kemudian pada plasenta dan foetus. Pedet yang dilahirkan akan lemah dan akhirnya mati. Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan sapi perah bunting adalah kebersihan. 
Kandang pada pemerahan susu sapi Moeria terdiri dari 8 kandang yang terdiri dari : 5 kandang sapi laktasi, 1 kandang sapi kering dan karantina, 1 kandang pejantan dan 1 kandang pedet. Kandang yang ada dibangun tidak melintang kearah Utara - Selatan karena untuk memanfaatkan lahan yang ada lokasi peternakan bersebelahan dengan perumahan rakyat, sehingga kandang terasa lembab dan gelap untuk mengatasi lembabnya lantai pada sanitasi kandang jam 21.00 lantai tidak disiram air hanya kotorannya saja yang dibersihkan.
Tindakan sanitasi merupakan suatu usaha untuk menjaga kebersihan kandang yang akan memberikan dampak yang positif yaitu ternak dapat terbebas dari penyakit baik melalui bakteri, virus maupun parasit. Pemeliharaan sapi Moeria Kudus, menggunakan sistem sanitasi yang optimal untuk menjaga keadaan nyaman di sekitar peternakan. Hal ini bahwa peternakan mempunyai kafe untuk menjual susu yang diproduksi di dalam peternakan sehingga dalam penggunaan air untuk melakukan sanitasi terhadap ternak dan lingkungan relatif banyak sehingga banyak air yang terbuang.
DAFTAR PUSTAKA
Ir.Soribasya Siregar M, S. SAPI PERAH Jenis, Teknik Pemeliharaan, dan Analisa Usaha. Penebar Swadaya.
Reaves, P.M  &  Handerson,Dairy Cattle Feeding and Management.
Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta. Balai Pusat Statistik, 2001. Buku Statistik Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta.
BAPEDAL, 1998. Produksi Bersih di Indonesia. Laporan Tahunan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta.
Bandini, Y. 1999. Sapi Bali. Cetakan ke II. Penebar Swadaya, Jakarta.
Betty, S.L.J dan Winiati, P.R. 2007. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Bishop, Paul L. 2000. Pollution Prevention : Fundamentals and Practice, McGraw-Hill.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh SriGandono)
Davis, R.F. 1962. Modern Dairy Cattle Management. Prentice Hall, Inc. Amerika Serikat
Diggins,R.V. and C.E.Bundy, 1979.Dairy Product.Prentice Halls, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2008. Perlu Ditingkatkan Pemenfaatan Biogas Dari Kotoran Ternak. Tabloid Sinar Tani, Edisi 4 – 10 Junu 2008, hal 18, PT. Yudhagama Corp. Jakarta.

Tidak ada komentar: