Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 Juni 2012

Blog ini dialihkan ke blog baru peternakan wahyu utama

Blog bumi peternakan wahyu utama saat ini sudah dialihkan ke http://peternakanwahyuutama.blogspot.com dan berisi artikel yang lebih menarik serta lengkap mengenai dunia persapian

Blog Ini dialihkan

Blog bumi peternakan wahyu utama saat ini sudah dialihkan ke http://peternakanwahyuutama.blogspot.com dan berisi artikel yang lebih menarik serta lengkap mengenai dunia persapian

Rabu, 13 Juni 2012

Pemerintah Kucurkan Insentif Bagi Sapi Bunting



REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG Senin, 11 Juni 2012 -- Peternak sapi dan kerbau akan mendapatkan insentif dari pemerintah. Dengan catatan, sapi dan kerbau tersebut dalam kondisi bunting (hamil) di atas lima bulan. Setiap sapi dan kerbau yang bunting akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 500 ribu.

Staff Produksi Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Karawang Slamet Yuliyadi mengatakan, tahun ini Karawang mendapatkan alokasi 800 ekor sapi dan kerbau. Insentif tersebut, bersumber dari anggaran pusat (APBN).

"Insentif ini merupakan angin segar bagi peternak," kata Slamet kepada Republika, Senin (11/6).

Disebutkan dia, populasi sapi dan kerbau akhir-akhir ini mengalami penyusutan. Tak hanya di Karawang, di berbagai daerah lain juga kondisinya serupa. Saat ini, populasi sapi dan kerbau sekitar 12 ribu dari 30 kecamatan yang ada. Kantung-kantung kedua hewan ternak itu di antaranya di Kecamatan Pangkalan, Teluk Jambe Barat, dan Tegalwaru.

Untuk mengantisipasinya, pemerintah menggulirkan program swasembada daging sapi dan kerbau (SDSK). Tujuannya, untuk meningkatkan populasi kedua hewan ternak tersebut.

Mekanismenya, peternak yang mendapat insentif harus menjadi anggota kelompok. Setiap kelompok, nantinya melaporkan ke dinas jumlah sapi dan kerbau yang sedang bunting.

Kemudian, dinas menerjunkan tim reproduksi. Tim ini, akan menyurvei keabsahan hewan yang bunting itu. Jika hasil survei tim ini positif, maka hewan tersebut akan dilaporkan ke dinas terkait di provinsi.

Untuk selanjutnya, tim dari provinsi akan turun mengkroscek kebenarannya. Jika sesuai, maka insentif tersebut akan segera di transfer ke rekening kelompok. Dengan kata lain, insentif ini tidak melalui dinas di kabupaten melainkan dari pusat kemudian transit di provinsi lalu ditransfer ke kelompok.

"Provinsi berperan sebagai satuan kerja. Kalau kabupaten, hanya tim surveyor," jelasnya.

DARI REPUBLIKA ONLINE
Redaktur: Hazliansyah
Reporter: Ita Nina Winarsih

PEMELIHARAAN SAPI BUNTING DAN LAKTASI

PEMELIHARAAN SAPI BUNTING DAN LAKTASI
I. MADE ADI JAYA

BAB I

PENDAHULUAN

 

Berkembangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan gizi dan bertambahnya tingkat pendapatan masyarakat, menyebabkan permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat. Pemeliharaan sapi perah beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Susu yang diproduksi selama ini belum memenuhi kebutuhan konsumsi, dikarenakan populasi sapi perah yang relatif masih sedikit. Produktivitas sapi perah yang sudah ada masih belum memuaskan karena pemuliaannya belum dilaksanakan secara lebih terarah.
Ditinjau dari permasalahan dan tujuan penelitian maka tipe penelitian yang akan dilaksanakan adalah tipe penelitian Kaji Tindak (action research) yaitu penelitian yang dilakukan bersama-sama peneliti dan pelaku dalam mengidentifikasi masalah dan mencari strategi terbaik dalam melakukan suatu usaha peternakan yang ramah lingkungan. Sumber data penelitian ini adalah pemilik, pekerja, Dinas Lingkungan Hidup Kudus, masyarakat sekitar peternakan serta penggunjung peternakan. Teknik pengumpulan data adalah metode rapid appraisal yang meliputi: Group Interview, Informal Surveys serta Observasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan statistic sederhana dan dibuat dalam bentuk narasi sehingga menunjukan kualitas atau fenomena yang menjadi objek penelitian.
Seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan gizi dan bertambahnya tingkat pendapatan masyarakat, menyebabkan permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat. Pemenuhan tingkat gizi tersebut diantaranya berasal dari produk–produk peternakan. Sapi perah merupakan salah satu komoditi peternakan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan bergizi tinggi. Pemeliharaan sapi perah beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini senantiasa didorong oleh pemerintah agar swasembada susu tercapai secepatnya. Untuk memenuhi kebutuhan susu secara nasional, perkembangan sapi perah perlu mendapatkan pembinaan yang lebih mantap dan terencana dari pada tahun - tahun yang sudah. Hal ini akan dapat terlaksana apabila peternak - peternak sapi perah dan orang yang terkait dengan pemeliharaan sapi perah bersedia melengkapi diri dengan pengetahuann tentang pemeliharaan sapi perah.
Susu yang diproduksi selama ini belum memenuhi kebutuhan konsumsi, dikarenakan populasi sapi perah yang relatif masih sedikit, produktivitas sapi perah yang sudah ada masih belum memuaskan karena pemuliaannya belum dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan serta tingkat pengetahuan peternak sapi perah pada umumnya belum memadai dalam pengelolaan sapi perah berproduksi tinggi.
Usaha peternakan sapi perah, dengan skala lebih besar dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi tetap akan menimbulkan masalah terhadap lingkungan (SK.Mentan. No.237/Kpts/RC410/ 1991 tentang batasan usaha peternakan yang harus melakukan evaluasi lingkungan). Hal ini diperkuat dengan UU No 23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berisi tentang setiap rencana usaha yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan, sedangkan untuk rencana usaha atau kegiatan yang menimbulkan danpak kurang penting terhadap lingkungan cukup menyusun UKL atau UPL. Populasi sapi perah di Indonesia terus meningkat dari 334.371 ekor pada tahun 1997 menjadi 368.490 ekor pada tahun 2001 dan limbah yang dihasilkan pun akan semakin banyak (BPS, 2001). Satu ekor sapi dengan bobot badan 400–500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari. Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Soehadji, 1992).
Menurut BAPEDAL Pusat (1998). Produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan terus menerus pada proses produksi dan praproduksi, sehingga mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan. Produksi bersih tidak hanya menyangkut proses produksi, tetapi juga menyangkut pengelolaan seluruh daur hidup produksi, yang dimulai dari pengadaan bahan baku dan pendukung, proses dan operasi, hasil produksi dan limbahnya sampai ke distribusi serta konsumsi. Semua industri di seluruh dunia semakin menyadari keuntungan yang dapat diperoleh dari produksi bersih dan mereka telah mengembangkan program tersebut di perusahaannya. Pada proses pemeliharaan sampai proses produksi, peternakan sapi perah Moeria Kudus masih kurang memperhatikan efisiensi dalam penggunaan air, pakan hijauan serta penerapan pemerahan yang benar, sehingga diharapkan dengan penerapan produksi bersih mampu mengurangi jumlah air yang dibuang, pemberian pakan hijauan yang benar-benar sesuai untuk ternak serta mampu melakukan pemerahan yang benar sehingga produksi susu bisa meningkat dan jauh dari penyakit.
Pada peternakan Moeria kudus, limbah padat yang dihasilkan sangat banyak dan tempat penampungan limbah yang ada kurang memadai sehingga banyak limbah padat yang terbuang ke aliran sungai sehingga ada indikasi mencemari lingkungan sekitar, serta dengan pemakaian air dengan jumlah yang sangat banyak akan mengakibatkan ikut melarutkan limbah padat yang berada di bak penampungan limbah gampang terbuang ke badan sungai. Masyarakat sekitar tidak merasakan gangguan selama ini, tetapi ada kalanya limbah yang terbuang mengganggu estetika pemandangan, oleh karena itu peternakan melakukan pembersihan selokan menuju ke badan sungai setiap minggunya untuk menghindari keresahan masyarakat sehingga usaha pemerahan susu sapi Moeria Kudus bisa berjalan dengan baik di lingkungan sekitar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sapi Friesien Holstein
Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) merupakan hasil persilangan antara sapi FH dengan sapi lokal, dengan ciri - ciri yang hampir menyerupai FH tetapi produksi susu relatif lebih rendah dari FH dan badannya juga lebih kecil (Siregar, 1995). Hasil dari persilangan tersebut mempunyai sifat diantara kedua induknya, dimana pertambahan bobot badan cukup tinggi serta mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis secara baik (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Sapi FH sangat menonjol karena banyaknya jumlah produksi susu namun kadar lemaknya rendah, kapasitas perut besar sehingga mampu menampung pakan banyak, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengubah pakan menjadi susu (Blakely dan Bade, 1998).
2.2. Pengertian Perkandangan
Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukkan sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas bangunan utama (kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang isolasi) dan perlengkapan lainnya (Sugeng, 1998). Kandang sapi perah terdiri atas kandang untuk sapi induk, kandang pejantan, kandang pedet serta kandang isolasi (Williamson dan Payne, 1993). Sistem perkandangan ada dua tipe yaitu stanchion barn dan loose house. Stanchion barn yaitu sistem perkandangan dimana hewan diikat sehingga gerakannya terbatas sedangkan loose house yaitu sistem perkandangan dimana hewan dibiarkan bergerak dengan batas – batas tertentu (Davis, 1962).
2.3 Perawatan Sapi Bunting
Hal utama yang penting diperhatikan pada sapi perah bunting adalah ransum dan kesehatan, sapi perah bunting yang mendapat ransum yang baik, dalam kuantitas dan kualitas, serta kesehatan yang trepelihara baik akan melahirkan pedet yang sehat dan kuat (Siregar, 1995).
Sapi yang bunting banyak sekali memerlukan gerak badan untuk itu dilepaskan di padang terbuka atau dibawa jalan-jalan dengan maksud supaya peredaran darah menjadi lebih lancar sehingga kesehatan anak yang dikandang lebih terjamin, kesulitan dalam melahirkan dapat dihindarkan dan terjadinya Retentiosecundinarum (ketinggian ari) dapat dicegah. Dua bulan menjelang kelahirn yaitu, pada kebintingan 7 bulan yang kebetulan sedang laktsi harus dikeringkan walaupun produksinya masih tinggi sebab waktu 2 bulan itu diperlukan sapi tresebut untuk mempersiapkan laktasi yang akan datang.
Pengeringan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : 1). Pemerahan berselang, 2). Pemerahan tak lengkap, 3). Penghentian pemberian konsentrat dengan tiba - tiba dibarengi dengan pemerahan bersela (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
Induk sapi bunting perlu di berikan kesempatan berolahraga dengan cara dilepas di lapangan penggembalaan secara teratur selama 1 - 2 jam setiap hari.Dengan demikian, induk tersebut dapat bergerak secara leluasa, mendapatkan sinar matahari dan udara segar serta urat menjadi terlatih sehingga peredaran darah berjalan lancar yang kesemuanya ini akan menunjang kelancaran proses kelahiran pedet.

Pemberian pakan tidak baik selama induk bunting akan mempengaruhi kesehatan dan produksi susu.oleh karena itu,induk sapi yang sedang bunting harus di upayakan agar selalu dalam ke adaan kenyang, lebih lebih bagi induk yang di pelihara dalam kandang secara terus menerus. Dua sampai tiga hari sebelum induk melahirkan perlu di berikan pakan khusus yang memenuhi standart kualitas dan kuantitasnya supaya memudahkan kelahiran pedetnya.pakan yang kandungan proteinnya terlalu rendah sebaiknya jangan di berikan karena akan menggangu kelahiran pedet.Disarankan peternak memberi pakan yang kadungan energinya tinggi dan ditambahkan molase untuk membantu kelancaran pada saat melahirkan pedetnya. ciri ciri sapi yang akan beranak :
  • Badannya memanjang 
  • Perutnya menurun
  • Vulvanya bengkak
Induk - induk sapi menjelang melahirkan memiliki kelainan tingkah laku dan mengalami perubahan fisk ini di tandai dengan: ambing membesar,keras dan kencang. sapi nampak gelisah karena kesakitan,maka induk sebentar berdiri,kemudian berbaring lagi. kaki belakang sulit di gerakkan dan posisi kedua kaki tersebut agak terbuka keluar. bibir kemaluan membesar. tubuh tampak memanjang sedangkan perut turun ke bawah. jika putting di pijat,pertama tama keluar cairan berwarna seperti air kental kemudian berubah menjadi susu biasa.  Kelahiran abnormal sering terjadi pada sapi sapi yang berukuran besar,pemeliharaannya di kandangkan secara terus menerus,sapi yang terlalu mudah,masa kebuntingan yang terlalu lama,kelahiran kembar,infeksi uterus,kematian fetus dll.
Faktor faktor yang menyebabkan distokia adalah:
  • secara genetis,induk tersebut memiliki kecenderungan mengalami distokia.
  • adanya gen gen resesif pada induk dan pejantan yang dapat menghasilkan foetus tidak sempurna.
  • sapi dara yang mengalami kekurangan gizi pakan sehingga ukuran tubuhnya kecil.
  • induk sap di kawinkan terlalu awal/muda.
  • alat reproduksi mengalami infeks misal pada dinding terus.
  • posisi foetus yang tidak benar dalam uterus,misal kaki terlipat atau leher dan kepala trlipat ke samping.
Pada saat saat induk menjelang melahirkan,peternak harus menciptakan kondisi lingkungan yang bersih,hyginis,tenang,dan nyaman.oleh karena itu,beberapa kegiatan harus dilakukan oleh peternak yaitu:
  • mengupayakan kandng harus selalu bersih,kering dan hangat.
  • membuat ukuran kandang yang lebih longgar.maka pada saat induk melahirkan induk dapat di lepas.
  • menjauhkan dari segala hal yang mengejutkan,baik yang bersifat fisik berupa benturan,di pukul,jatuh tergelincir,dan kemungkinan tadukan sesama sapi.suara - suara gaduh.
  • memandikan induk bunting dengan larutan pencuci hama yang sifatnya ringanuntuk menghindari organisme penyebab scours yang dapat mengancam keselamatan pedet.
Untuk mempersiapkan yang baik,peternak harus mengetahui lamanya kebuntingan.pada umumnya kebuntingan rata - rata 285 hari,akan tetapi dapat bervariasi pad setiap induk sapi.hal ini di sebabkan oleh faktor al:
  • iklim
  • perawatan
  • pakan 
  • dan bangsa sapi.
Hal utama yang penting diperhatikan pada sapi perah bunting adalah ransum dan kesehatan. Sapi perah bunting yang mendapat ransum yang baik, dalam arti kuantitas dan kualitas, serta kesehatan yang  terpelihara baik akan melahirkan pedet yang sehat dan kuat.
Perhatian terhadap ransum penting dilakukan terutama setelah umur kebuntingan lebih dari 2 bulan. Sebab sapi perah bunting harus mempersiapkan perkembangan foetus yang dikandungnya dan memperbaiki kondisi tubuhnya sendiri untuk laktasi yang berikutnya.
Sapi perah bunting harus mendapat  energi yang cukup, tapi jangan berlebihan. Sapi perah bunting yang mendapat energi berlebihan akan kegemukan dan biasanya mengalami kesukaran melahirkan (distokia).
Penyediaan protein dalam tubuh lebih terbatas dibandingkan penyediaan energi. Oleh karena itu protein harus cukup tersedia dalam ransum yang diberikan. Kekurangan protein dapat menyebabkan menurunnya ketahanan tubuh terhadap penyakit dan kematian pada pedet yang dilahirkan.
Berbagai jenis penyakit yang dapat mengganggu kesehatan sapi perah bunting dan foetus yang dikandungnya harus dapat dicegah. Penularan beberapa jenis penyakit melalui viral dapat menimbulkan infeksi pada plasenta dan foetus. Akibat pedet yang dilahirkan mati atau dalam keadaan lemah dan akhirnya mati. Infeksi dapat pula terjadi pada uterus sapi perah yang sedang bunting dan kemudian menimbulkan infeksi pula pada plasenta dan foetus.
Pencegahan penyakit pada sapi perah bunting  maupun sapi perah lainnya, dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, dan orang yang memelihara/merawatnya. Kandang harus dijaga supaya tetap bersih. Ada baiknya pada waktu-waktu tertentu lantai kandang dibersihkan dengan menggunakan karbol atau densol, tetapi dijaga agar jangan sampai membahayakan sapi.
Pembuangan air dalam kandang harus tersalur dengan baik dan diusahakan agar tidak terjadi genangan air di dalam dan di sekitar kandang. Kandang yang selalu terjaga kebersihannya, akan membuat sapi-sapi yang ada di dalam kandang selalu bersih. Sapi perah sebaiknya dimandikan setiap pagi. Hal ini perlu karena pada malam hari kandang tidak dibersihkan, sehingga kotoran sapi yang ada pada malam hari akan menempel pada badan sapi, pada saat sapi sedang tidur atau berbaring.
Peralatan kandang yang digunakan sehari-hari, setiap selesai digunakan harus dibersihkan dan ditaruh pada tempat yang bersih dan aman.  Pada waktu ada wabah penyakit  berjangkit, peralatan-peralatan kandang perlu dibersihkan dengan menggunakan desinfektan. Hindarkan meminjam ataupun meminjamkan peralatan kandang pada peternak lain.
Kesehatan pekerja yang merawat sapi harus selalu terjaga baik dan dijaga jangan sampai sapi-sapi perah tertular penyakit  tertentu dari orang yang merawatnya.
Lama kebuntingan pada sapi perah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain bangsa atau breed, umur, frekwensi beranak, dan kelamin anak yang dikandung. Beberapa di antara bangsa sapi perah menunjukan lama kebuntingan sebagai berikut :
LAMA KEBUNTINGAN RATA-RATA
DARI BEBERAPA BANGSA SAPI PERAH
Bangsa
Lama Bunting (hari)
Ayrshire
Brown Swiss
Guernsey
Frisian Holstein
Jersey
278
288
283
279
278
       Sumber : Reaves & Henderson 1963
Anak jantan dikandung lebih lama sekitar 1 – 3 hari dibanding dengan anak betina. Sapi perah yang baru pertama kali beranak, lama kebuntingannya lebih singkat sekitar 2 hari dibandingkan sapi perah induk yang sudah sering beranak. Beberapa hari sebelum melahirkan, sapi perah bunting hendaknya ditempatkan pada kandang yang lantainya telah diberi jejabah seperti jerami kering, rumput kerinng, dsb. Kandang beranak harus terbebas dari segala gangguan, baik pada sapi perah yang akan melahirkan maupun pada anak yang dilahirkan. Agar saat-saat melahirkan dapat diketahui,  Tanggal perkawinan perlu dicatat. Pada saat menjelang kelahiran,  puting susu akan membengkak. Pengawasan terhadap sapi yang akan melahirkan harus lebih diperketat.
Sejak awal kebuntingan, sapi perahbunting memerlukan perhatian penuh dari peternak, karena nantinya harus dapat melahirkan pedet yang sehat dan kuat.Pedet yang unggul berasal dari Foetus yang dapat berkembang dengan baik di dalam kandungan sapi induknya. Selain itu, perlakuan yang baik dan benar padasapi bunting diperlukan agara nantinyaternak sapi bunting tersebut dapat dengan cepat memperbaiki kondisi tubuhnya untuk laktasi berikutnya.
Hal utama yang harus diperhatikan adalah :
  1. Ransum ; Kualitas dan kuantitas pakan/ransum yang diberikan pada sapi bunting, nutrisinya harus mencukupi, namun tidak boleh berlebihan. Energi dari pakan yang berlebih akan menyebabkan sapi bunting menjadi gemuk, yang nantinya akan menyulitkan pada saat melahirkan. Kontrol terhadap protein pakan juga harus diperhatikan, kekurangan protein akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan pedet yang dilahirkan memiliki resiko kematian yang lebih tinggi.
  2. Kesehatan ; Sapi yang sedang bunting rawan terhadap serangan penyakit melalui viral, yang mengakibatkan infeksi pada uterus dan kemudian pada plasenta dan foetus. Pedet yang dilahirkan akan lemah dan akhirnya mati. Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan sapi perah bunting adalah kebersihan. Yang harus mendapat perhatian adalah kebersihan pada :
    • Badan sapi ; sapi bunting sebaiknya dimandikan minimal satu kali sehari pada setiap pagi. Kandang Sapi ; lantai kandang harus selalu dibersihkan dengan air atau desinfektan yang tidak membahayakan sapi. Selain itu, saluran pembuangan air (drainase) kandang harus lancar, agar kandang selalu dalam kondisi kering.
    • Peralatan kandang ; harus langsung dibersihkan setelah selesai digunakan (akan lebih baik jika menggunakan desinfektan),kemudian diletakkan pada tempat yang bersih dan aman. Hindari meminjam atau meminjamkan peralatan pada peternak lain agar penyakit tidak menyebar.
    • Pekerja kandang ;  Banyak kasus sapi yang sedang bunting tertular penyakit melalui pekerja yang merawatnya. Oleh sebab itu kesehatan pekerja harus selalu terjaga. Jika ada pekerja yang sakit, segera istirahatkan dan tidak boleh masuk ke kandang.
2.4 Perawatan Sapi Laktasi
Kandang dibersihkan setiap hari agar sapi senantiasa bersih dan bebas dari kotoran sehingga susu yang diperoleh tidak rusak dan tercemar. Sebelum melakukan pemerahan dilakukan pembersihan lantai kandang, tempat pakan, tempat minum, dan kemudian membersihkan bagian ambing. Hal ini dilakukan karena susu mudah menyerap bau. Pada permulaan laktasi, bobot badan akan mengalami penurunan, karena sebagian dari zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk pembentukan susu diambil dari tubuh sapi. Pada saat itu juga sapi laktasi mengalami kesulitan untuk memenuhi zat-zat makanan yang dibutuhkan sebab nafsu makannya rendah, oleh karena itu pemberian ransum terutama konsentrat harus segera ditingkatkan begitu nafsu makannya membaik kembali (Siregar, 1995).
BAB III
PEMBAHASAN
Ransum
Kualitas dan kuantitas pakan/ransum yang diberikan pada sapi bunting, nutrisinya harus mencukupi, namun tidak boleh berlebihan. Energi dari pakan yang berlebih akan menyebabkan sapi bunting menjadi gemuk, yang nantinya akan menyulitkan pada saat melahirkan. Kontrol terhadap protein pakan juga harus diperhatikan, kekurangan protein akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan pedet yang dilahirkan memiliki resiko kematian yang lebih tinggi. Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik akan memberikan produksi susu yang optimal. Perusahaan sapi perah Moeria Kudus memberikan pakan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan adalah rumput gajah yang didapatkan dari petani rumput sekitar, sedangkan konsentrat diperoleh dari masyarakat sekitar pada saat panen raya.
Hijauan diberikan dua kali sehari setelah pemerahan dilakukan sebanyak 18 kg BS rumput Gajah/ekor/hari, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa hijauan diberikan sepanjang hari secara ad libitum, di Moeria Kudus kekurangan hijauan digantikan dengan Dedak yaitu sebanyak 10 kg/ekor/hari yang diberikan satu kali sehari pada waktu sore hari. Konsentrat diberikan satu kali sehari setelah pemerahan sebanyak 30 kgBS/ekor/hari dalam bentuk komboran yang merupakan campuran konsentrat, dedak, ampas tahu dan ketela, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa pemberian konsentrat dilakukan dua kali sehari sebelum pemerahan. Fungsi utama dari pemberian konsentrat adalah mensuplai energi tambahan yang diperlukan untuk produksi susu secara maksimum dan mengatur atau menyesuaikan tingkat protein suatu ransum tertentu.
Pemberian pakan konsentrat memiliki persentase yang lebih tinggi dari pada hijauan, hal ini dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bagi sapi perah. Pengaturan pemberian pakan di peternakan sapi perah Moeria kudus adalah konsentrat 15.381 kg BK : hijauan 3,78 KgBK/ekor/hari sehingga perbandingan hijauan : Konsentrat adalah 19,72 % : 80,28% dalam KgBK atau 46,2 % : 53,8 % dalam KgBS Pemberian air minum secara ad libitum sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1994) bahwa pada pemeliharaan sapi perah, air minum harus selalu ada atau tersedia karena air mempunyai fungsi sangat vital. Fungsi dari air untuk sapi perah adalah sebagai zat pelarut dan pengangkut zat makanan, membantu proses pencernakan, penyerapan dan pembuangan hasil metabolisme, memperlancar reaksi kimia dalam tubuh, pengatur suhu tubuh dan membantu kelancaran kerja syaraf panca indra.
Kesehatan dan Sanitasi
Sapi yang sedang bunting rawan terhadap serangan penyakit melalui viral, yang mengakibatkan infeksi pada uterus dan kemudian pada plasenta dan foetus. Pedet yang dilahirkan akan lemah dan akhirnya mati. Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan sapi perah bunting adalah kebersihan. 
Kandang pada pemerahan susu sapi Moeria terdiri dari 8 kandang yang terdiri dari : 5 kandang sapi laktasi, 1 kandang sapi kering dan karantina, 1 kandang pejantan dan 1 kandang pedet. Kandang yang ada dibangun tidak melintang kearah Utara - Selatan karena untuk memanfaatkan lahan yang ada lokasi peternakan bersebelahan dengan perumahan rakyat, sehingga kandang terasa lembab dan gelap untuk mengatasi lembabnya lantai pada sanitasi kandang jam 21.00 lantai tidak disiram air hanya kotorannya saja yang dibersihkan.
Tindakan sanitasi merupakan suatu usaha untuk menjaga kebersihan kandang yang akan memberikan dampak yang positif yaitu ternak dapat terbebas dari penyakit baik melalui bakteri, virus maupun parasit. Pemeliharaan sapi Moeria Kudus, menggunakan sistem sanitasi yang optimal untuk menjaga keadaan nyaman di sekitar peternakan. Hal ini bahwa peternakan mempunyai kafe untuk menjual susu yang diproduksi di dalam peternakan sehingga dalam penggunaan air untuk melakukan sanitasi terhadap ternak dan lingkungan relatif banyak sehingga banyak air yang terbuang.
DAFTAR PUSTAKA
Ir.Soribasya Siregar M, S. SAPI PERAH Jenis, Teknik Pemeliharaan, dan Analisa Usaha. Penebar Swadaya.
Reaves, P.M  &  Handerson,Dairy Cattle Feeding and Management.
Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta. Balai Pusat Statistik, 2001. Buku Statistik Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta.
BAPEDAL, 1998. Produksi Bersih di Indonesia. Laporan Tahunan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta.
Bandini, Y. 1999. Sapi Bali. Cetakan ke II. Penebar Swadaya, Jakarta.
Betty, S.L.J dan Winiati, P.R. 2007. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Bishop, Paul L. 2000. Pollution Prevention : Fundamentals and Practice, McGraw-Hill.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh SriGandono)
Davis, R.F. 1962. Modern Dairy Cattle Management. Prentice Hall, Inc. Amerika Serikat
Diggins,R.V. and C.E.Bundy, 1979.Dairy Product.Prentice Halls, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2008. Perlu Ditingkatkan Pemenfaatan Biogas Dari Kotoran Ternak. Tabloid Sinar Tani, Edisi 4 – 10 Junu 2008, hal 18, PT. Yudhagama Corp. Jakarta.

PERAN PENTING VITAMIN PADA TERNAK

VITAMIN BAGI TUBUH TERNAK
                             I MADE ADI JAYA              

I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1911 seorang peneliti dari Lister Institute di London yaitu Casimir Funk memberi nama vitamine, yang kemudian dikenal dengan nama vitamin. Vitamin adalah senyawa organic yang secara keseluruhan dibedakan struktur dan fungsinya dengan protein, lemak, dan karbohidrat. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit, namun sangat penting dalam berbagai fungsi tubuh ternak. Tanpa vitamin, kuda tidak dapat tumbuh bereproduksi, kerja, laktasi atau membentuk tubuh, sehingga vitamin harus menjadi bagian dari ransum. Akhir-akhir ini terdapat berbagai informasi penelitian tentang level vitamin yang dibutuhkan kuda, namun sejauh ini belum diketahui vitamin mana yang diperlukan untuk ditambahkan agar ransum kuda seimbang.
Setiap mahluk hidup pasti membutuhkan makanan sebagai penghasil energi untuk tumbuh, beraktivitas dan bereproduksi. Sama halnya dengan ternak khususnya ayam. Ransum diberikan setiap hari oleh peternak agar ayam bisa tumbuh. Apakah cukup tumbuh saja? Jelas tidak, pasti para peternak mengharapkan ayamnya tumbuh dengan cepat, sehat dan terbebas dari segala penyakit. Hasilnya, panen bisa maksimal dan harga jual ayam menjadi tinggi sehingga menguntungkan peternak itu sendiri. Lalu bagaimana hal tersebut bisa dicapai? Pencapaian produktivitas yang optimal salah satunya dipengaruhi oleh nutrisi ransum yang dikonsumsi. Nutrisi tersebut terdiri dari nutrisi makro dan nutrisi mikro. Hal yang menjadi persoalan selama ini adalah bahwa kebutuhan nutrisi mikro seperti vitamin dan mineral seringkali tidak tercukupi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di dalam sistem pemeliharaan ternak.
1.2. Jenis Vitamin
Berdasarkan kelarutannya vitamin terdiri dari dua macam :
  1. Vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin C dan vitamin B komplek yang terdiri dari tiamin, riboflavin, asam pantotenat, kholin, biotin, vitamin B6, B12, folasin, mio-inositol, dan asam p-aminobenzoat.
  2. Vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K.
Dengan demikian vitamin meliputi 11 jenis vitamin B komplek, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin C.
1.3. MengapaVitamin Sangat Dibutuhkan sebagai Suplemen
Berikut ini beberapa alasan, meningkatnya kebutuhanVitamin yang harus disuplementasi dalam ransum kuda :
  1. Meningkatnya program seleksi untuk memperbaiki peforman dan kecakapan berlari, sehingga perlu peningkatan kualitas gizi.
  2. Perbedaan genetic antar jenis kuda, sehingga berbeda pula dalam kebutuhan nutrient.
  3. Kekurangan nutrien tertentu dalam tanah, sehingga berpengaruh pada level nutrient yang dimakan kuda.
  4. Penagangan dan prosesing pakan mempengaruhi ketersediaan nutrient.
  5. Interaksi antar nutrient sehingga mempengaruhi kebutuhan vitamin.
  6. Perubahan kondisi lingkungan ternak sehingga meningkatkan kebutuhan nutrient.
  7. Stress dan penyakit antara lain karena kontak antar kuda.
  8. Adanya kapang pada pakan sehingga meningkatkan kebutuhan vitamin tertentu.
  9. Adanya anti metabolit pada pakan.
Suplementasi vitamin harus dberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu
dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
1.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kandungan Vitamin dalam Ransum Kuda
Vitamin diperlukan dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan nutrient lainnya, namun kekurangan vitamin dalam ransum menyebabkan gangguan metabolisme dan penyakit. Beberapa senyawa yang berfungsi sebagai precursor vitamin atau provitamin seperti β-karoten atau pro-vitamin A. Diketahui sedikitnya 15 vitamin dibutuhkan kuda. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan.
Vitamin yang terdapat dalam pakan bervariasi tergantung pada tipe tanah, iklim, pemanenan, dan penyimpanan. Hijauan berkualitas yang diperoleh pada pagi hari biasanya banyak mengandung vitamin. Defisiensi vitamin dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan kualitas buruk atau pakan tanpa suplemen vitamin. Sebagian besar vitamin yang la rut dalam air dapat disintesis dari mikroorganisme dalam usus kuda, namun tidak untuk dismpan. Beberapa diantaranya terlibat dalam metabolisme atau penggunaan lemak, protein dan karbohidrat pakan, sehingga berarti pakan yang mengandung banyak energy harus diiringi dengan banyak vitamin.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dinamika Kebutuhan Vitamin
Vitamin berasal dari kata “vitae-amine” dan didefinisikan sebagai senyawa organik yang diperlukan dalam jumlah kecil untuk menjaga fungsi metabolisme dalam tubuh tetap optimal. Vitamin sebagai salah satu bagian dari nutrisi mikro, memiliki peranan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan jenis nutrisi lainnya. Jika dilihat secara kuantitatif, persentase kebutuhan vitamin pada ransum ayam pasti lebih kecil dibandingkan dengan nutrisi lain seperti karbohidrat, protein dan lemak. Meskipun begitu, vitamin tetap wajib diberikan terkait fungsinya sebagai katalis metabolisme nutrisi makro. Dalam arti lain, bila tidak ada vitamin maka metabolisme nutrisi makro akan terhambat. Hambatan metabolisme ini akan menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi tidak optimal, terbatasnya pembentukan energi untuk beraktivitas dan tidak terjadi regenerasi sel-sel yang rusak dalam tubuh.
Pernyataan di atas dikuatkan oleh Scott et al., (1992) yang menyatakan bahwa unggas yang dipelihara dengan sistem tata laksana yang tidak baik, sangat peka terhadap kejadian defisiensi (kekurangan) vitamin. Hal tersebut disebabkan :
  1. Unggas tidak memperoleh keuntungan dari sintesis vitamin oleh mikroorganisme di dalam alat pencernaan ayam itu sendiri karena ayam harus bersaing dengan mikroorganisme dalam menggunakan vitamin tersebut. Selain itu, meskipun unggas mampu mensintesis vitamin seperti vitamin C, namun hasil sintesis tersebut sangat rendah. Rendahnya sintesis vitamin oleh unggas disebabkan saluran pencernaan unggas yang lebih pendek dan laju pencernaan ransum yang lebih cepat dibandingkan ternak lain seperti ruminansia
  2. Unggas mempunyai kebutuhan yang tinggi terhadap vitamin karena vitamin penting bagi reaksi- reaksi metabolis yang vital di dalam tubuh unggas
  3. Populasi yang padat dalam peternakan unggas modern menimbulkan berbagai macam stres. Ditambah dengan kondisi lingkungan akibat global warming, dimana cuaca selalu berubah-ubah dan tidak menentu sehingga sangat berpotensi menyebabkan ayam stres sehingga kebutuhan akan vitamin juga semakin tinggi
2.2 Vitamin Larut Lemak
Vitamin A
Vitamin ini sering disebut sebagai retinol. Secara umum Vitamin A dapat ditemukan dalam tepung ikan dan jagung. Vitamin A berfungsi dalam proses pertumbuhan, stabilitas jaringan epitel pada membran mukosa saluran pencernaan, pernapasan, saluran reproduksi serta mengoptimalkan indera penglihatan.
Defisiensi vitamin A pada ayam dapat menyebabkan ruffled feathers (bulu berdiri), ataxia (kehilangan keseimbangan saat berjalan) dan bisa berakibat pada penurunan produksi telur serta daya tetas. Bila defisiensi berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama serta tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan munculnya cairan putih susu (keruh) pada mata ayam tersebut sehingga bisa mengganggu penglihatan dan kadang terjadi kerusakan mata permanen. Selain itu defisiensi vitamin A bisa menyebabkan timbulnya bintik darah (blood spot) pada telur (Saif, 2003).
Vitamin D
Vitamin D pada produk-produk vitamin seringkali ditulis sebagai vitamin D3. Vitamin D3 atau yang lebih dikenal sebagai cholecalciferol adalah satu-satunya metabolit dari vitamin D yang bisa digunakan oleh unggas (Weber, 2009). Secara umum vitamin ini dapat ditemukan pada tepung ikan dan sinar matahari yang berfungsi sebagai prekursor. Vitamin D bermanfaat untuk metabolisme kalsium dan fosfor dalam pembentukan kerangka normal, membentuk paruh dan cakar yang keras serta kerabang telur yang kuat.
Defisiensi vitamin D akan menyebabkan metabolisme kalsium dan fosfor terhambat sehingga akan banyak ditemukan telur dengan kerabang tipis dan lembek serta paruh dan cakar yang lembek pula. Selain itu akan terjadi pula penurunan produksi telur dan situasi dimana ayam kesulitan untuk bergerak karena kakinya lemah sehingga terjadilah kelumpuhan/ricketsia.
Vitamin E
Vitamin E dapat digunakan untuk seluruh derivate tocol dan tocotrienol yang mempunyai aktivitas biologis α-tokoferol. Vitamin E disebut juga vitamin antisterilitas dan factor X. Ungkapan seperti “aktivitas vitamin E” atau “defisiensi vitamin E” sering kali digunakan. α-tokoferol disebut sebagai vitamin E semenjak diketahui mempunyai nilai nutrisi yang lebih. Misalnya jika α-tokoferol mempunyai nilai 100, maka β dan zeta tokoferol nilainya hanya kira-kira 1/3-nya; sedangkan gamma delta, epsilon dan etatokoferolhanya kurang dari 1% dari nilai α-tokoferol. Maka analisis total tokoferol pakan dapat salah faham. Satu unit IU didasarkan 1 mg d- α-tokoferol asetat sama dengan 1,36 mg dl- α- tokoferol asetat. dl-α-tokoferol asetat adalah standar internasional yang didefinisikan sebagai aktivitas1 IU per mg. Kemudian istilah 1 IU dan 1 mg dl- α-tokoferol asetat selalu dapat berubah untuk digunakan.
Vitamin E sering disebut sebagai tocopherols dan sering ditemukan dalam biji kedelai, biji gandum dan CGM (corn gluten meal). Vitamin E bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan. Defisiensi vitamin E akan menyebabkan menurunnya fertilitas dan daya tetas, encephalomalacia/crazy chick disease (penyakit ayam gila), serta kelainan pada koordinasi otot.
Vitamin K
Nama/sebutan lain vitamin K adalah : vitamin antihemoragic, vitamin pembeku darah, factor protrombin, philloquinon, dan 2-metil-1,4-naftoquinon. Vitamin K digunakan untuk 2-metil-1,4-naftoquinon dan turunannya, yang secara aktivitas biologisnya disebut fityl-menoquinon (philloquinon). Istilah ‘aktivitas Vitamin K” dan “defisiensi Vitamin K” lebh sesuai digunakan. Beberapa senyawa mempunyai struktur yang sama dan semuanya mempunyai aktivitas sebagai vitamin K. Di alam, ada dua bentuk yang dapat diisolasi, yaitu K1, dan K2. Selain itu beberapa senyawa sintetis telah dipreparasi mempunyai aktivitas vitamin K, satu diantaranya adalah 2-metil-1,4-naftoquinon., yang disebut menadion yang lebih aktif dibanding K1. Beberapa senyawa vitamin K sintetis larut dalam air, berbeda sekali dengan K1, dan K2 yang larut dalam lemak.
Vitamin K dapat ditemukan pada tepung ikan. Vitamin K berfungsi dalam pembentukan protrombin yang nantinya digunakan untuk pengaturan proses pembekuan darah. Defisiensi vitamin K akan menyebabkan perdarahan pada jaringan/organ tertentu (hemoragi) serta anemia akibat darah yang sukar membeku saat terjadi luka pada bagian tubuh yang terbuka (Saif, 2003).
2.3 Vitamin Larut Air
Vitamin B1 (thiamin)
Vitamin B1 sering disebut juga sebagai aneurin terkait dengan sifat antineuritis (anti radang urat syaraf) yang dimilikinya. Vitamin B1 berfungsi untuk membantu proses metabolisme karbohidrat dan energi dalam tubuh. Defisiensi vitamin ini menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat serta terjadi pembengkakan pada sistem syaraf (Roche, 1979).
Keterbatasan cadangan tiamin dalam tubuh menyebabkan perlunya supply tiamin. Fungsi tiamin sebagai penyusun system enzim dan esensial untuk menyokong penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi untuk tubuh. Perombakan karbohidrat meningkat selama balapan/pacu atau performan, sehingga adalah penting mencukupi ketersediaan tiamin. Toksisitas tiamin belum ada laporan. Kelebihan tiamin segera disekresikan melalui urin, namun demikian kelebihn tiamin dalam ransum perlu dhindari.
Vitamin B2 (riboflavin)
Vitamin B2 berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, asam amino dan asam lemak. Vitamin ini dapat ditemukan pada tepung daging dan tepung ikan. Defisiensi vitamin B2 menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi lambat, lemas dan ayam mengalami kesulitan berjalan. Gejala yang paling dikenal adalah kelumpuhan pada kaki (leg paralysis) atau kelumpuhan pada jari kaki (curled toe paralysis). Beberapa gejala tersebut akhirnya akan berakibat pada menurunnya produksi telur dan daya tetas (Saif, 2003).
Defisiensi riboflavin menyebabkan penurunan tngkat pertumbuhan dan penggunaan pakan. Rboflavin esensial sebagai penyusun system enzim dalam tubuh. Penting dalam meningkatkan penggunaan energi pakan dan nutrient dalam ransum. Belum terdefinisikan berapa banyak ribovlavin dapat memperbaiki ophtalmia. “ophtalmia Periodik” dapat menyebabkan kerusakan mata, katarak, dan kebutaan.
Vitamin B3 (nicotinamide)
Vitamin B3 atau lebih dikenal sebagai niasin atau nicotinamide berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi. Vitamin ini dapat ditemukan pada jagung, biji bunga matahari dan hampir semua bungkil biji-bijian. Kekurangan vitamin B3 menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan lambat, turunnya produksi telur dan daya tetas, membran mukosa menjadi berwarna merah gelap, perubahan pada tulang paha serta kadang terjadi diare yang disertai darah.
Vitamin B5 (asam pantotenat)
Vitamin B5 atau yang lebih dikenal sebagai asam pantotenat berfungsi sebagai komponen koenzim A dalam metabolisme karbohidrat, asam lemak, asam amino dan steroid. Asam pantotenat banyak terkandung dalam bungkil biji bunga matahari. Defisiensi asam pantotenat akan menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti paruh, kelopak mata dan jari kaki, warna bulu menjadi kasar dan buram, serta menyebabkan turunnya produksi dan daya tetas telur.
Vitamin B6 (piridoxin)
Nama lain dari Vitamin B6 adalah “yeast evaluate factor”, adermia, faktor anti acrodenia pada tikus. Selanjutnya sebutan Vitamin B6 yang mempunyai aktivitas biologis “Aktivitas Vitamin B6” dan ”defisiensi Vitamin B6” lebih tepat digunakan. Vitamin B6 termasuk tiga senyawa : piridoksin, pyridoksal, dan pyrdoksamin, juga ada bentuk lain pyridoksin. Aktivitasnya ketiga senyawa tersebut sama dalam tubuh ternak. Namun sangat berbeda aktivitasnya pada beberapa mikroorganisme. Pada ragi, organ glandular, dan daging sebagian besa vitamin B6 ada dalam bentuk pyridoksal, dan pyrdoksamin. Jadi mempelajari vitamin harus mengingat bentuk keberadaan vitamin dalam pakan kekefektifannya responnya terhadap ternak dan mikroorganisme. Namun pada kuda belum ada informasi tentang bentuk keefektifannya.
Vitamin B6 atau piridoxin berfungsi untuk metabolisme protein dan lemak dalam tubuh. Vitamin B6 dapat ditemukan hampir disemua bungkil biji-bijian. Selain menyebabkan nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat, defisiensi vitamin B6 ini akan menyebabkan bulu tumbuh jarang (tidak merata) dan kasar, produksi telur serta daya tetas telur menurun (Roche, 1979).
Fungsi Vitamin B6 berhubungan dengan system enzim dan berperan dalam penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam mencerna pakan. Tanpa adanya Vitamin B6 asam amino trptofan tidak dapat digunakan oleh ternak. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan kegagalan reproduksi, anemia, dermatitis, degenerasi sel saraf dan gangguan penglihatan.
Vitamin B9 (asam folat)
Vitamin B9 atau yang lebih sering disebut sebagai asam folat berfungsi untuk metabolisme karbohidrat. Asam folat dapat ditemukan pada biji gandum. Defisiensi asam folat akan menyebabkan pertumbuhan lambat, anemia, menurunnya daya tetas serta bulu yang kasar dan jarang (Roche, 1979).
Vitamin B12 (cyanocobalamin)
Vitamin B12 atau sering disebut sebagai cyanocobalamin berfungsi untuk metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Tidak seperti vitamin B lainnya, vitamin B12 bisa terakumulasi di jaringan, utamanya di hati dan sedikit di ginjal, otot, tulang dan kulit (Weber, 2009). Defisiensi vitamin B12 akan mengakibatkan pertumbuhan lambat, ukuran telur kecil-kecil dan daya tetas menurun.
Fungsi Vitamin B12 berhubungan dengan penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam penggunaan pakan. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan reproduksi, anemia, inkordinasi bagian posterior, langkah tidak tetap, rendahnya nafsu makan, hiperiritbilitas, dan bulu kasar. Defisiensi Vitamin B12 tidak ditemukan pada kuda. Beberapa penyakit defisiensi ditemukan pada hewan lain, bukan pada kuda.
Biotin
Biotin sering dikenal sebagai Vitamin B7. Vitamin ini berfungsi dalam metabolisme karbohidrat dan lemak dalam produksi energi. Biotin dapat ditemukan pada tepung ikan dan biji gandum. Defisiensi biotin menyebabkan kulit mengeras pada daerah paruh dan mata (hampir sama seperti pada saat terjadi defisiensi asam pantotenat). Selain itu bisa terjadi juga kelainan pada tulang rawan dan menurunnya daya tetas.
Vitamin C (asam askorbat)
Vitamin C disebut juga asam askorbat, asam “Cevitamic”, antiskorbut, skorbutamin, dan asam heksuronat. Sebutan vitamin C digunakan untuk seluruh senyawa yang mempunyai aktivitas biologi asam askorbat. Satu unit vitamin C adalah aktivitas yang terkandung dalam 0,05 mg vitamin. Jadi 1 mg vitamin C setara dengan 20 IU vitamin C. Aktivitas vitamin C biasanya diekspresikan dalam miligram vitamin C. Vitamin C ini berfungsi untuk metabolisme sel dan sebagai anti oksidan. Defisiensi vitamin C tidak terjadi pada ternak namun vitamin C bermanfaat dalam situasi ayam yang stres karena panas atau kondisi lain (Weber, 2009).
Tabel 1 adalah tabel rekomendasi kadar vitamin yang dibutuhkan berdasarkan National Research Council (NRC), AWT German Trade Association dan DSM Vitamin Suplementation Guidelines yang dihitung berdasarkan pemberian makan harian dalam range 80 hingga 120 gram per hari. NRC menentukan jumlah minimum vitamin yang dibutuhkan sedangkan AWT dan DSM merekomendasikan suplementasi vitamin di atas kadar alami vitamin dalam ransum (Weber, 2009).
2.4 Hubungan Manajemen Penyimpanan Ransum dengan Defisiensi Nutrisi
Dalam suatu formulasi ransum, kadar vitamin dalam ransum umumnya telah disesuaikan dengan jumlah kebutuhan vitamin bagi unggas dan mampu dicukupi melalui asupan ransum yang berasal dari pabrikan. Namun pada kenyataannya, kadar vitamin tersebut dapat hilang pada waktu bahan pakan diproses atau selama ransum disimpan dalam gudang penyimpanan.
Potensi vitamin juga bisa menurun akibat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu yang ekstrim, cahaya dan oksidasi. Contohnya saja vitamin seperti A, D, E dan C yang tidak stabil terhadap panas, cahaya dan kelembaban. Vitamin B1 dan asam pantotenat juga bisa rusak akibat pengolahan atau penyimpanan ransum yang kurang baik. Karena alasan itulah, maka sulit untuk menjamin bahwa vitamin akan stabil kadarnya dalam ransum terlebih jika ransum menjalani proses pengangkutan yang cukup jauh.
Untuk memastikan bahwa ransum yang kita berikan pada ayam tidak mengalami defisiensi vitamin, maka salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah dengan mengatur manajemen penyimpanan ransum melalui tindakan sebagai berikut :
  1. Berikan alas (pallet) pada tumpukan ransom
  2. Atur posisi penyimpanan ransum sesuai dengan waktu kedatangannya (first in first out, FIFO)
  3. Simpan ransum dalam tempat yang tertutup dan terhindar dari sinar matahari langsung
  4. Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan ransom
  5. Sebaiknya ransum disimpan dalam gudang penyimpanan tidak lebih dari 30 hari agar kualitas nutrisi, termasuk vitamin, di dalamnya tidak menurun
  6. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin
  7. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur
2.5 Stres dan Vitamin
Indonesia memiliki iklim tropis dengan 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kondisi musim yang tidak menentu akhir-akhir ini semakin membuat ayam tidak nyaman dan mudah sekali mengalami stres. Kondisi stres akibat pengaruh perubahan cuaca sangat berperan besar memunculkan kasus defisiensi vitamin, karena saat stres tubuh akan kehilangan sejumlah besar vitamin.
Ayam memang merupakan ternak yang sangat rentan terhadap stres. Dampak nyata stres pada ayam apabila tidak ditangani dengan baik adalah penurunan produksi, baik berupa telur bagi ayam petelur maupun penurunan berat badan bagi ayam pedaging. Hal ini disebabkan turunnya nafsu makan dan minum sehingga kekebalan tubuh ayam berkurang dan akibatnya ayam menjadi mudah terserang penyakit. Faktor penyebab stres selain faktor cuaca diantaranya adalah :
  • Sirkulasi udara dalam kandang yang tidak baik
  • Suhu dan kelembaban dalam kandang meningkat
  • Populasi ayam dalam kandang yang terlalu padat
  • Suara bising
  • Kekurangan ransum
  • Pergantian ransum mendadak
  • Vaksinasi
  • Perlakuan kasar, potong paruh, pindah kandang, dll
Salah satu kejadian stres yang seringkali ditemukan di lapangan ialah kejadian heat stress. Data yang diperoleh oleh tim Technical Service Medion (2010) melaporkan bahwa kejadian heat stress pada ayam pedaging dan petelur masing-masing sebesar 0,41% dan 0,6% dari total kejadian penyakit di tahun 2010. Ayam yang terserang stres dapat dipulihkan kondisinya dengan cara menghilangkan faktor penyebab stres tersebut. Namun demikian, ternyata vitamin berperan besar dalam hal ini karena proses pemulihan stres sangat didukung oleh pemberian vitamin. Pemberian vitamin dapat mempertinggi ketahanan tubuh ayam saat stres serta menjaga proses metabolisme tubuh berjalan dengan normal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ayam komersial saat ini sangat rentan terhadap stres, baik itu stres yang disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan yang kurang baik maupun stres akibat pengaruh cuaca/suhu lingkungan. Oleh karena itu, suplementasi vitamin tentu sangat diperlukan. Vitamin dapat ditambahkan ke dalam ransum maupun ke dalam air minum ayam. Vitamin biasanya dapat diberikan ketika ayam pertama kali chick in (masuk ke kandang), sebelum dan setelah vaksinasi, setelah pengobatan, ketika sakit, pindah kandang, cuaca buruk dan saat pergantian ransum.
Berbagai produk vitamin telah banyak dijual di pasaran, salah satunya ialah Vita Stress yang diproduksi oleh Medion. Vita Stress mengandung vitamin lengkap (vitamin A, D3, E, K. B1, B2, B6, B12, C, nicotinic acid dan calcium-D-pantothenate) dan elektrolit (natrium, kalium, kalsium dan magnesium) yang dibutuhkan oleh ayam untuk menambah daya tahan tubuh dan mencegah stres pada waktu sebelum dan sesudah vaksinasi, setelah potong paruh, pindah kandang, penggantian ransum, cuaca yang buruk dan pada musim rontok bulu. Vita Stress juga bisa mencegah terjadinya defisiensi vitamin pada ayam yang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi telur dan gangguan pertumbuhan bulu.
III. KESIMPULAN
Vitamin yang dibutuhkan oleh kuda terdiri atas 11 jenis vitamin B kompleks, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak, dan vitamin C. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan, namun defisiensi dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan berkualitas rendah atau pakan yang tidak ditambah suplemen vitamin. Sebagan besar vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin C dan vitamin B komplek dapat disintesis oleh mikroorganisme dalam usus ternak ruminan, namun tidak untuk disimpan. Jumlah yang disintesis tergantung dari jenis vitamin dan jenis ransum yang dimakan. Suplementasi vitamin harus diberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
Walaupun dapat disintesis oleh kuda, vitamin C sangat dibutuhkan terutama saat cuaca panas, kondisi stress selama percepatan pertumbuhan atau memperbaiki performan, dan jika ada factor penghambat sintesis vitamin C. Pada situasi tertentu, seperti kerja berat (selama latihan), balapan, atau perbaikan performan, suplementasi vitamin B kompleks menguntungkan. Sejauh ini toksisitas vitamin belum ada laporan karena kelebihannya segera dieksresikan dan keluar bersama feses. Setelah mengenal lebih mendalam mengenai jenis dan fungsi vitamin serta dinamika kebutuhannya, kita menjadi lebih paham bahwa sebenarnya ternak kita sangat memerlukan vitamin yang sesuai dengan dosis yang cukup. Ingat, bahwa ada banyak risiko dan kerugian yang ditimbulkan bila ternak kita sudah mengalami defisiensi vitamin, oleh karena itu marilah kita lakukan tindakan preventif dengan mengatur kembali tata laksana pemeliharaan ayam baik dari penyimpanan ransum, manajemen stres lingkungan dan ketepatan penggunaan vitamin.
DAFTAR PUSTAKA
Cunha, T.J. 1980. Horse Feeding and Nutrition. Academic Press New York London,
Toronto, Sydney, San Fransisco.
NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National
Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA.
Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung.
Pilliang, W.G. 1995. Nutrisi Vitamin. Volume II. Penerbit IPB, Bogor.
Pilliner, S. 1992. Horse Nutrtion and Feeding. Blackwell Science, Australia.

AMPAS BIR MENINGKATKAN PERFORMANS TERNAK RUMINANSIA



AMPAS BIR DALAM PENGEMBANGAN  PETERNAKAN
DI INDONESIA

Adijaya Tangkas


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penduduk Indonesia setiap tahun terus bertambah. Menurut data sensus terakhir jumlah penduduk Indonesia 202 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar akan menyebabkan kebutuhan pangan asal ternak semakin meningkat. Untuk lebih jelas data produksi daging sapi dan kebutuhan daging unggas adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Produksi Daging Sapi dan Konsumsi Daging Ayam Broiler
No
Tahun
Produksi Daging Sapi
(000 MT)*
Kebutuhan Daging Unggas
(kg/kapita/tahun)**
1
2001
1.128
1.73
2
2002
1.193
-
3
2003
1.445
2.30
4
2004
1.451
2.53
5
2005
-
3.70
Dari tabel di atas tampak bahwa baik produksi daging sapi maupun kebutuhan daging unggas dari tahun ke tahun terus meningkat. Kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut seiring dengan kondisi ekonomi yang semakin baik. Bahkan untuk konsumsi daging unggas diproyeksikan dua kali lipat pada tahun 2005 dibandingkan dengan tahun
1998. Keadaan ini memberikan peluang yang sangat besar bagi dunia perunggasan. Fenomena tersebut dirasakan dengan banyak berdirinya perusahaan peternakan, penggemukan sapi potong dan unggas baik untuk skala usaha besar maupun kecil.
Produktifitas sapi dipengaruhi antara lain oleh pakan yang dikonsumsinya. Dimaayarakat pedesaan, ternak masih dipelihara dengan cara tradisional dengan pakan seadanya. Pada saat musim kemarau panjang, peternak kesulitan mendapatkan pakan hijauan yang berkualitas baik. Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya konsentrat memegang peranan penting untuk peningkatan produktifitas ternak.
Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas, kuantitas dan kontiyunitas. Hijauan memiliki kandungan protein kasar dan nilai kecernaan sangat rendah. Pada musim kemarau yang panjang atau lebih dari 6 bulan dalam setahun menyebabkan ketersediaan hijauan selama musim tersebut menjadi sangat sulit diandalkan. Selain itu, pemeliharaan yang masih dilakukan secara traditional menjadi penyebab rendahnya produktifitas ternak yang dipelihara masyarakat.
Banyak berdirinya perusahaan ternak, ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang mencukupi. Kenyataan ini mengakibatkan masih diimpornya bahan pakan. Hal ini diakibatkan karena terjadi krisis ekonomi yang parah akibat kondisi politik yang tidak stabil. Sebenarnya impor bahan pakan dapat dikurangi atau mungkin tidak sama sekali, bila kita mampu memanfaatkan sumber daya yang ada, misalkan dengan memanfaatkan ampas bir. Pada hakekatnya pemanfaatan hasil ikutan merupakan pendaurulangan sumber daya alam sehingga dapat lebih bermanfaat bagi penanggulangan kelangkaan pakan.
Ketersediaan hasil ikutan jumlahnya cukup melimpah dan terkonsentrasi di daerah tertentu, seperti halnya di daerah Jawa Barat hanya terdapat pada kota-kota tertentu yaitu Bogor, Bandung dan Sumedang. Peternak di daerah tersebut dapat memanfaatkan ampas bir tersebut untuk makanan ternaknya. Walaupun harganya sangat tergantung pada jarak, kandungan bahan kering dan alternatif penggunaannya.
1.2 Issue Pokok
Bir dibuat dari bahan baku gandum, beras dan jagung.Ampas bir cukup disukai ternak, secara kualitatif tepung ampas bir dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur rasa, warna dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas ampas bir yang baik. Secara kuantitatif untuk mengetahui kualitas ampas bir, analisis PK dan SK perlu dilakukan.
1.3 Tujuan
Tujuan dari ampas bir adalah :
  1. Alternative pakan tambahan bagi ternak yang masih banyak menganduk zat makanan yang bermanfaat
  2. Pemanfaatan limbah yang tidak terpakai menjadi pakan tambahan
1.4 Manfaat
Limbah dari hasil industri pembuatan bir (ampas bir) merupakan salah satu alternative bahan pakan ternak yang masih mengandung protein tinggi. Pemanfaatan ampas bir diharapkan akan dapat menggantikan peran konsentrat dalam pakan ternak ruminansia. Seberapa besar produktifitas dan keuntungan ekonomis yang diperoleh dengan system pemeliharaan feedlot menggunakan bahan pakan tersebut.
BAB II
PERANAN
2.1 Deskriptif
Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ampas bir merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan bir yang banyak terdapat di Indonesia. Oleh karena itu untuk menghasilkan ampas bir tidak terlepas dari proses pembuatan bir.
Ditinjau dari komposisi kimianya ampas bir dapat digunakan sebagai sumber protein. Korossi (1982) menyatakan bahwa ampas bir lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan ampas tahu. Sedangkan Pulungan, dkk. (1985) melaporkan bahwa ampas bir mengandung NDF, ADF yang rendah sedangkan presentase protein tinggi yang menunjukkan ampas bir berkualitas tinggi, tetapi mengandung bahan kering rendah. Komposisi zat gizi ampas bir dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Komposisi Zat-zat Makanan Ampas bir
Bahan
BK (%)
Prk (%)
SK (%)
LK (%)
NDF (%)
ADF (%)
Abu (%)
Ca (%)
P
(%)
Eb (Kkal)
Ampas Bir
13.3
21.0
23.58
10.49
51.93
25.63
2.96
0.53
0.24
4730
Ampas bir juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas bir juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).
2.2 Kelebihan
Grain bir, Makan Bir juga disebut, adalah produk-oleh dari produksi bir yang merupakan protein tingkat menengah (CP> 26%) feedstuff digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten. Hal ini sangat cocok dan dapat digunakan dalam berbagai ransum. butir bir kering adalah protein feedstuff tingkat menengah digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten.
2.3 Kelemahan
Meskipun ampas bir merupakan salah satu pakan tambahan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi tapi penggunaan ampas bir yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh negative pada ternak. Biasanya penggunaan yang berlebihan akan mengakibatkan ganguan pencernaan pada ternak ruminansia dan stress pada ternak non ruminansia.
2.4 Peranan
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas bir sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas bir telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996).
Penelitian telah dilakukan pada domba oleh Pulungan, dkk., (1984), di mana ternak percobaannya diberi ransum perlakuan (A) rumput lapangan (ad libitum), (B) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir 1,25% BB, (C) rumput lapangan (ad libitum) + ampas tahu 2,5% BB, (D) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir (ad libitum). Hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa domba yang mendapat rumput berkualitas rendah, ampas bir dapat diberikan sebagai ransum penggemukan dan dapat diberikan secara tak terbatas.
Knipscheer et al. (1983) melakukan penelitian pada kambing dan menyimpulkan bahwa pemberian ampas tahu dapat memberikan keuntungan dalam usaha peternakan kambing atau domba yang dipelihara secara intensif.
Ampas tahu merupakan sumber protein yang mudah terdegradasi di dalam rumen (Suryahadi, 1990) dengan laju degradasi sebesar 9,8% per jam dan rataan kecepatan produksi N-amonia nettonya sebesar 0,677 mM per jam (Sutardi, 1983). Penggunaan protein ampas tahu diharapkan akan lebih tinggi bila dilindungi dari degradasi dalam rumen (Suryahadi, 1990).
Penelitian yang dilakukan Karimullan (1991) menunjukkan bahwa perlindungan ampas tahu dengan tanin menurunkan kadar amonia cairan rumen, hal ini berarti bahwa pemanfaatan protein ampas tahu dapat secara langsung digunakan oleh induk semang tanpa mengalami degradasi oleh mikroba rumen (protein by pass). Namun demikian perlindungan ini juga menyebabkan kadar VFA menurun dan diikuti pula dengan penurunan bakteri dan protozoa rumen. Kemungkinan besar karena pasokan nutrien ampas tahu, begitu pula dengan protozoa tidak cukup suplai bakteri dan nutriennya bagi kebutuhan untuk pertumbuhannya akibat perlindungan ampas tahu tersebut oleh tannin gambir.
2.5 Strategi
Penggunaan ampas bir sangat berguna sebagai pakan tambahan, dimana dari ampas bir ini peternak tidak perlu khawatir dengan harga pakan tambahan yang tinggi. Hal ini sebagai alternative pengganti bungkil dan bahan pakan lain yang dapat digantikan oleh ampas bir.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari studi literatur yang dilanjutkan dengan hasil pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :
  1. Ampas bir memiliki nilai nutrisi yang baik dan digolongkan ke dalam bahan pakan sebagai sumber protein.
  2. Ampas bir apabila diolah dan diawetkan, baik secara kering maupun secara basah dapat dimanfaatkan dan disimpan dalam waktu yang cukup lama.
  3. Ampas bir digunakan sebagai ransum memberikan pengaruh yang baik terhadap performans ternak ruminansia.
  4. Ampas bir apabila diproteksi dengan tannin dalam rumen akan tanah terhadap degradasi, hal ini dicerminkan dengan menurunnya konsentrasi VFA NH3, bakteri, dan protozoa rumen.
3.2 Saran
Perlu ada penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah ampas bir dalam penggunaan ampas bir sebagai bahan pakan tambahan bagi ternak.