Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Liputan Wahyu Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Wahyu Utama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

INTEGRASI PETERNAKAN SAPI ALA WAHYU UTAMA

01 February 2010
Integrasi ala Wahyu Utama

Konsep usaha terintegrasi ternyata tidak hanya pas diterapkan oleh pemodal besar tapi juga di tingkat kelompok ternak beserta koperasinya.
Memasuki lokasi Kelompok Tani Ternak (KTT) Bumi Peternakan Wahyu Utama di Jalan Raya Tuban-Semarang Desa Sukolilo, Kec. Bancar, Tuban, Jatim, terdengar lenguhan ratusan sapi. Anehnya, tidak tercium bau menyengat maupun terlihat kondisi kotor yang biasa kita temui peternakan tradisional lainnya. Dengan sejumlah nilai plus lainnya, kelompok ini berhasil meraih penghargaan Ketahanan Pangan Nasional 2009 Kategori Kelompok Peternak Sapi Potong Dari Hulu Sampai Hilir.
Cikal bakal kelompok tersebut adalah Drs. H. Joko Utomo. Pada 1992, ia memulai usaha sapi potong sebanyak lima ekor dengan mengikuti program pemerintah Gaduh Sapi. Dengan semakin banyaknya populasi sapi, ia dan beberapa peternak lalu mendirikan KTT Bumi Peternakan Wahyu Utama pada 2003. Dua tahun kemudian menyusul Koperasi Peternakan Wahyu Mitra Utama. Alasannya, ”Dengan kebersamaan, kita bisa menciptakan ekonomi kerakyatan melalui koperasi peternakan yang amanah dan profesional sesuai harapan teman-teman,” tutur ketua kelompok tersebut kepada AGRINA.
Saat ini jumlah sapi mereka mencapai 700 ekor berbagai macam jenis. Tidak hanya menggemukkan sapi tapi mereka juga melakukan pembibitan karena peluang bisnis bibit cukup bagus untuk menyediakan bakalan bagi peternak pemula. Berbekal reputasi yang baik, kelompok ini bisa memperoleh kucuran Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) senilai Rp11 miliar untuk populasi 1.100 ekor.

Tidak Ada yang Terbuang
Model usaha Joko berbasis kelompok yang sekarang beranggotakan 99 orang. Ia juga mengembangkan peternak binaan sampai 500 orang yang tersebar di Tuban Madiun, Ngawi, Tulungagung, Mojokerto, Malang, dan Brebes. ”Binaan ini tidak terikat. Kita punya standar operasional yang harus diterapkan peternak, nanti hasilnya kita beli. Sedangkan anggota koperasi harus punya kandang standar minim lantainya dicor, ada tempat makan-minumnya juga dicor,” urai Joko.
Teknik penggemukan lebih mengutamakan pemberian pakan dari limbah pertanian yang difermentasi. Pola pemberian pakannya, pagi konsentrat, siang hijauan, dan sore-malam-hingga pagi lagi dijatah konsentrat. Konsentrat ini dibuat dari jerami, kulit kacang, dedak, kulit ari jagung, kulit kopi, kulit kedelai, bungkil kopra, bungkil sawit, dan tebon jagung. ”Dengan pakan konsentrat fermentasi seperti itu pertambahan bobot rata-rata 1,2 kg per hari,” ungkap Joko.
Bila biaya operasional penggemukan Rp15.000 per hari per ekor dan harga jual sapi hidup Rp23.000 per kg, maka peternak untung Rp8.000 per kg. Belum termasuk rupiah dari hasil pengolahan limbah.
Pemasaran sapi hasil penggemukan tidak mengikat. Kalau harga di pedagang lain lebih tinggi, maka sapi dilepas. Sebaliknya jika sama, Joko akan ambil sapi tersebut dan memotongnya sendiri karena memiliki tempat pemotongan. Jumlah potongnya 2—3 ekor per hari. Sedangkan produksi bibitnya 8 ekor per minggu.
Nyaris tidak ada yang terbuang dari usaha ini. Semua limbah dijadikan pupuk organik. ”Kita mengelola limbah pertanian untuk konsentrat yang kita jual ke anggota Rp1.300 per kg. Kita juga membuat probiotik Bio Energi untuk formula pakan konsentrat, Bio Fermentor untuk formula pupuk organik, dan Sari Lemu, jamu sapi agar cepat gemuk dari rempah-rempah. Alhamdulillah, semua anggota menggunakan produk buatan kelompok sendiri,” terang Joko.
Sedangkan untuk pengembangan usaha olahan, seperti bakso, kerupuk paru, kulit dan tulang muda dikerjakan kelompok tani wanita. Penjualannya melalui koperasi atau langsung ke pasar.

 Penulis Artikel
Indah Retno Palupi (Surabaya)
dari tabloid Agrina (Inspirasi Agribisnis Indonesia) 

Jumat, 01 Juni 2012

KUNCI KEBERHASILAN TERNAK SAPI

Kunci Utama Ternak adalah di pemilihan bibit sapi yang baik, pemberian pakan yang murah, serta pasca penjualan. banyak peternak sapi di tuban mengeluh tentang harga sapi yang cenderung tidak stabil karena faktor harga saat pemilihan bibit. banyak peternak sapi yang cenderung sudah rugi disaat awal pembelian sapi karena faktor lemahnya menaksir harga sapi di pasar sapi didaerah tuban, selain itu pula peternak sapi tradisional juga diombang-ambingkan dengan harga konsentrat yang selalu naik tiap tahun, dan juga ketika mereka sudah merasa siap menjual ternak sapi mereka, harga sapi peternak tersebut dibeli rendah oleh para blantik/makelar sapi.
Beberapa Peternak sapi yang telah datang ke Bumi Peternakan Wahyu Utama merasakan kondisi berbeda yakni mereka diajarkan tentang mengolah dan membuat pakan konsentrat sendiri dari limbah pertanian yang banyak didaerah sekitar mereka, dan juga peternak diajari tentang fermentasi pakan menggunakan BIO-ENERGI. dengan menggunakan formula tersebut banyak peternak yang merasa diuntungkan karena pertambahan berat bobot sapi mereka bisa rata rata mencapai 0,9 -1,2 kg/hari.
Selain itu pula Bumi Peternakan Wahyu Utama membantu mereka dengan sistem pola KEMITRAAN. yakni bakalan sapi yang dibeli di Bumi Peternakan Wahyu Utama ditetapkan dengan harga perkg sesuai kesepakatan misal Rp.27.000/kg sapi dan dibeli lagi Rp.27.000/kg oleh Bumi Peternakan Wahyu Utama bila dirasa oleh peternak sapi tersebut sudah maksimal untuk penggemukannya. jadi harga sudah dikunci.
 jadi pola KEMITRAAN ini disebut POLA KEMITRAAN ANTI RUGI. sudah banyak peternak disekitar tuban, dan kota kota lainnya seperti peternak sapi binaan kami dimalang, lamongan, mojokerto, kediri yang merasakan manfaatnya.
Kunjungi kami di
alamat facebook kami : bumi peternakan wahyu utama

Peternakan Sapi Potong Terbesar di Tuban

Bumi Peternakan Wahyu Utama berdiri pada tahun 1992, awal mula pendirian Drs.H.Joko Utomo karena keterbatasan modal beliau memulai hanya dengan 5 ekor ternak sapi titipan dengan sistem bagi modal. dengan bermodalkan semangat beliau tetap berjuang sekuat tenaga dan jerih payah beliau memang berhasil. saat ini beliau mengelola sebanyak 1500 ekor ternak sapi potong dengan berbagai jenis baik sapi jenis (simental, limosin, brangus) maupun sapi lokal (P.O). Tahun 2003 beliau juga sudah memiliki minifeedmill untuk pembuatan pakan konsentratan dengan kapasitas produksi sekitar 10 ton-15 ton perhari untuk memenuhi kebutuhan pakan untuk ternak sapinya sendiri dan juga sudah mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kandang. saat ini pupuk Bokasi/ pupuk kandang beliau dimanfaatkan oleh petani kelapa sawit didaerah kalimantan, petani didaerah lamongan, petani di sekitar tuban, sarang-Rembang, dan juga sebagian diambil oleh pengusaha pupuk di daerah tuban. di Bumi Peternakan Wahyu Utama sendiri sering dijadikan tempat studi banding oleh beberapa dinas peternakan baik dari riau, poliwalimandar, kalimantan, dll. beberapa institusi pendidikan yang sering mengajukan magang ditempat kami antaralain : fakultas peternakan UNDIP, UNISLA, UNAIR, dan SMK daerah singgahan dan SMK Bojonegoro. Bumi Peternakan Wahyu Utama tahun 2009 mendapatkan penghargaan langsung yang diberikan oleh wakil presiden Budiono karena tela memenangkan lomba AGRIBISNIS Tingkat NASIONAL dengan predikat juara I. bagi para peternak-peternak yang ingin mengenal peternakan kami dapat berkunjung ke Bumi Peternakan Wahyu Utama alamatnya di dekat Tugu perbatasan Jateng-Jatim dekat RM.Wahyu Utama cabang bulu-Tuban Jawa Timur. atau menghubungi Humas kami Sugeng Berenergy 081938004800.