Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pakan Ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakan Ternak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

PERAN PENTING VITAMIN PADA TERNAK

VITAMIN BAGI TUBUH TERNAK
                             I MADE ADI JAYA              

I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1911 seorang peneliti dari Lister Institute di London yaitu Casimir Funk memberi nama vitamine, yang kemudian dikenal dengan nama vitamin. Vitamin adalah senyawa organic yang secara keseluruhan dibedakan struktur dan fungsinya dengan protein, lemak, dan karbohidrat. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit, namun sangat penting dalam berbagai fungsi tubuh ternak. Tanpa vitamin, kuda tidak dapat tumbuh bereproduksi, kerja, laktasi atau membentuk tubuh, sehingga vitamin harus menjadi bagian dari ransum. Akhir-akhir ini terdapat berbagai informasi penelitian tentang level vitamin yang dibutuhkan kuda, namun sejauh ini belum diketahui vitamin mana yang diperlukan untuk ditambahkan agar ransum kuda seimbang.
Setiap mahluk hidup pasti membutuhkan makanan sebagai penghasil energi untuk tumbuh, beraktivitas dan bereproduksi. Sama halnya dengan ternak khususnya ayam. Ransum diberikan setiap hari oleh peternak agar ayam bisa tumbuh. Apakah cukup tumbuh saja? Jelas tidak, pasti para peternak mengharapkan ayamnya tumbuh dengan cepat, sehat dan terbebas dari segala penyakit. Hasilnya, panen bisa maksimal dan harga jual ayam menjadi tinggi sehingga menguntungkan peternak itu sendiri. Lalu bagaimana hal tersebut bisa dicapai? Pencapaian produktivitas yang optimal salah satunya dipengaruhi oleh nutrisi ransum yang dikonsumsi. Nutrisi tersebut terdiri dari nutrisi makro dan nutrisi mikro. Hal yang menjadi persoalan selama ini adalah bahwa kebutuhan nutrisi mikro seperti vitamin dan mineral seringkali tidak tercukupi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di dalam sistem pemeliharaan ternak.
1.2. Jenis Vitamin
Berdasarkan kelarutannya vitamin terdiri dari dua macam :
  1. Vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin C dan vitamin B komplek yang terdiri dari tiamin, riboflavin, asam pantotenat, kholin, biotin, vitamin B6, B12, folasin, mio-inositol, dan asam p-aminobenzoat.
  2. Vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K.
Dengan demikian vitamin meliputi 11 jenis vitamin B komplek, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin C.
1.3. MengapaVitamin Sangat Dibutuhkan sebagai Suplemen
Berikut ini beberapa alasan, meningkatnya kebutuhanVitamin yang harus disuplementasi dalam ransum kuda :
  1. Meningkatnya program seleksi untuk memperbaiki peforman dan kecakapan berlari, sehingga perlu peningkatan kualitas gizi.
  2. Perbedaan genetic antar jenis kuda, sehingga berbeda pula dalam kebutuhan nutrient.
  3. Kekurangan nutrien tertentu dalam tanah, sehingga berpengaruh pada level nutrient yang dimakan kuda.
  4. Penagangan dan prosesing pakan mempengaruhi ketersediaan nutrient.
  5. Interaksi antar nutrient sehingga mempengaruhi kebutuhan vitamin.
  6. Perubahan kondisi lingkungan ternak sehingga meningkatkan kebutuhan nutrient.
  7. Stress dan penyakit antara lain karena kontak antar kuda.
  8. Adanya kapang pada pakan sehingga meningkatkan kebutuhan vitamin tertentu.
  9. Adanya anti metabolit pada pakan.
Suplementasi vitamin harus dberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu
dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
1.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kandungan Vitamin dalam Ransum Kuda
Vitamin diperlukan dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan nutrient lainnya, namun kekurangan vitamin dalam ransum menyebabkan gangguan metabolisme dan penyakit. Beberapa senyawa yang berfungsi sebagai precursor vitamin atau provitamin seperti β-karoten atau pro-vitamin A. Diketahui sedikitnya 15 vitamin dibutuhkan kuda. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan.
Vitamin yang terdapat dalam pakan bervariasi tergantung pada tipe tanah, iklim, pemanenan, dan penyimpanan. Hijauan berkualitas yang diperoleh pada pagi hari biasanya banyak mengandung vitamin. Defisiensi vitamin dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan kualitas buruk atau pakan tanpa suplemen vitamin. Sebagian besar vitamin yang la rut dalam air dapat disintesis dari mikroorganisme dalam usus kuda, namun tidak untuk dismpan. Beberapa diantaranya terlibat dalam metabolisme atau penggunaan lemak, protein dan karbohidrat pakan, sehingga berarti pakan yang mengandung banyak energy harus diiringi dengan banyak vitamin.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dinamika Kebutuhan Vitamin
Vitamin berasal dari kata “vitae-amine” dan didefinisikan sebagai senyawa organik yang diperlukan dalam jumlah kecil untuk menjaga fungsi metabolisme dalam tubuh tetap optimal. Vitamin sebagai salah satu bagian dari nutrisi mikro, memiliki peranan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan jenis nutrisi lainnya. Jika dilihat secara kuantitatif, persentase kebutuhan vitamin pada ransum ayam pasti lebih kecil dibandingkan dengan nutrisi lain seperti karbohidrat, protein dan lemak. Meskipun begitu, vitamin tetap wajib diberikan terkait fungsinya sebagai katalis metabolisme nutrisi makro. Dalam arti lain, bila tidak ada vitamin maka metabolisme nutrisi makro akan terhambat. Hambatan metabolisme ini akan menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi tidak optimal, terbatasnya pembentukan energi untuk beraktivitas dan tidak terjadi regenerasi sel-sel yang rusak dalam tubuh.
Pernyataan di atas dikuatkan oleh Scott et al., (1992) yang menyatakan bahwa unggas yang dipelihara dengan sistem tata laksana yang tidak baik, sangat peka terhadap kejadian defisiensi (kekurangan) vitamin. Hal tersebut disebabkan :
  1. Unggas tidak memperoleh keuntungan dari sintesis vitamin oleh mikroorganisme di dalam alat pencernaan ayam itu sendiri karena ayam harus bersaing dengan mikroorganisme dalam menggunakan vitamin tersebut. Selain itu, meskipun unggas mampu mensintesis vitamin seperti vitamin C, namun hasil sintesis tersebut sangat rendah. Rendahnya sintesis vitamin oleh unggas disebabkan saluran pencernaan unggas yang lebih pendek dan laju pencernaan ransum yang lebih cepat dibandingkan ternak lain seperti ruminansia
  2. Unggas mempunyai kebutuhan yang tinggi terhadap vitamin karena vitamin penting bagi reaksi- reaksi metabolis yang vital di dalam tubuh unggas
  3. Populasi yang padat dalam peternakan unggas modern menimbulkan berbagai macam stres. Ditambah dengan kondisi lingkungan akibat global warming, dimana cuaca selalu berubah-ubah dan tidak menentu sehingga sangat berpotensi menyebabkan ayam stres sehingga kebutuhan akan vitamin juga semakin tinggi
2.2 Vitamin Larut Lemak
Vitamin A
Vitamin ini sering disebut sebagai retinol. Secara umum Vitamin A dapat ditemukan dalam tepung ikan dan jagung. Vitamin A berfungsi dalam proses pertumbuhan, stabilitas jaringan epitel pada membran mukosa saluran pencernaan, pernapasan, saluran reproduksi serta mengoptimalkan indera penglihatan.
Defisiensi vitamin A pada ayam dapat menyebabkan ruffled feathers (bulu berdiri), ataxia (kehilangan keseimbangan saat berjalan) dan bisa berakibat pada penurunan produksi telur serta daya tetas. Bila defisiensi berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama serta tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan munculnya cairan putih susu (keruh) pada mata ayam tersebut sehingga bisa mengganggu penglihatan dan kadang terjadi kerusakan mata permanen. Selain itu defisiensi vitamin A bisa menyebabkan timbulnya bintik darah (blood spot) pada telur (Saif, 2003).
Vitamin D
Vitamin D pada produk-produk vitamin seringkali ditulis sebagai vitamin D3. Vitamin D3 atau yang lebih dikenal sebagai cholecalciferol adalah satu-satunya metabolit dari vitamin D yang bisa digunakan oleh unggas (Weber, 2009). Secara umum vitamin ini dapat ditemukan pada tepung ikan dan sinar matahari yang berfungsi sebagai prekursor. Vitamin D bermanfaat untuk metabolisme kalsium dan fosfor dalam pembentukan kerangka normal, membentuk paruh dan cakar yang keras serta kerabang telur yang kuat.
Defisiensi vitamin D akan menyebabkan metabolisme kalsium dan fosfor terhambat sehingga akan banyak ditemukan telur dengan kerabang tipis dan lembek serta paruh dan cakar yang lembek pula. Selain itu akan terjadi pula penurunan produksi telur dan situasi dimana ayam kesulitan untuk bergerak karena kakinya lemah sehingga terjadilah kelumpuhan/ricketsia.
Vitamin E
Vitamin E dapat digunakan untuk seluruh derivate tocol dan tocotrienol yang mempunyai aktivitas biologis α-tokoferol. Vitamin E disebut juga vitamin antisterilitas dan factor X. Ungkapan seperti “aktivitas vitamin E” atau “defisiensi vitamin E” sering kali digunakan. α-tokoferol disebut sebagai vitamin E semenjak diketahui mempunyai nilai nutrisi yang lebih. Misalnya jika α-tokoferol mempunyai nilai 100, maka β dan zeta tokoferol nilainya hanya kira-kira 1/3-nya; sedangkan gamma delta, epsilon dan etatokoferolhanya kurang dari 1% dari nilai α-tokoferol. Maka analisis total tokoferol pakan dapat salah faham. Satu unit IU didasarkan 1 mg d- α-tokoferol asetat sama dengan 1,36 mg dl- α- tokoferol asetat. dl-α-tokoferol asetat adalah standar internasional yang didefinisikan sebagai aktivitas1 IU per mg. Kemudian istilah 1 IU dan 1 mg dl- α-tokoferol asetat selalu dapat berubah untuk digunakan.
Vitamin E sering disebut sebagai tocopherols dan sering ditemukan dalam biji kedelai, biji gandum dan CGM (corn gluten meal). Vitamin E bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan. Defisiensi vitamin E akan menyebabkan menurunnya fertilitas dan daya tetas, encephalomalacia/crazy chick disease (penyakit ayam gila), serta kelainan pada koordinasi otot.
Vitamin K
Nama/sebutan lain vitamin K adalah : vitamin antihemoragic, vitamin pembeku darah, factor protrombin, philloquinon, dan 2-metil-1,4-naftoquinon. Vitamin K digunakan untuk 2-metil-1,4-naftoquinon dan turunannya, yang secara aktivitas biologisnya disebut fityl-menoquinon (philloquinon). Istilah ‘aktivitas Vitamin K” dan “defisiensi Vitamin K” lebh sesuai digunakan. Beberapa senyawa mempunyai struktur yang sama dan semuanya mempunyai aktivitas sebagai vitamin K. Di alam, ada dua bentuk yang dapat diisolasi, yaitu K1, dan K2. Selain itu beberapa senyawa sintetis telah dipreparasi mempunyai aktivitas vitamin K, satu diantaranya adalah 2-metil-1,4-naftoquinon., yang disebut menadion yang lebih aktif dibanding K1. Beberapa senyawa vitamin K sintetis larut dalam air, berbeda sekali dengan K1, dan K2 yang larut dalam lemak.
Vitamin K dapat ditemukan pada tepung ikan. Vitamin K berfungsi dalam pembentukan protrombin yang nantinya digunakan untuk pengaturan proses pembekuan darah. Defisiensi vitamin K akan menyebabkan perdarahan pada jaringan/organ tertentu (hemoragi) serta anemia akibat darah yang sukar membeku saat terjadi luka pada bagian tubuh yang terbuka (Saif, 2003).
2.3 Vitamin Larut Air
Vitamin B1 (thiamin)
Vitamin B1 sering disebut juga sebagai aneurin terkait dengan sifat antineuritis (anti radang urat syaraf) yang dimilikinya. Vitamin B1 berfungsi untuk membantu proses metabolisme karbohidrat dan energi dalam tubuh. Defisiensi vitamin ini menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat serta terjadi pembengkakan pada sistem syaraf (Roche, 1979).
Keterbatasan cadangan tiamin dalam tubuh menyebabkan perlunya supply tiamin. Fungsi tiamin sebagai penyusun system enzim dan esensial untuk menyokong penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi untuk tubuh. Perombakan karbohidrat meningkat selama balapan/pacu atau performan, sehingga adalah penting mencukupi ketersediaan tiamin. Toksisitas tiamin belum ada laporan. Kelebihan tiamin segera disekresikan melalui urin, namun demikian kelebihn tiamin dalam ransum perlu dhindari.
Vitamin B2 (riboflavin)
Vitamin B2 berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, asam amino dan asam lemak. Vitamin ini dapat ditemukan pada tepung daging dan tepung ikan. Defisiensi vitamin B2 menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi lambat, lemas dan ayam mengalami kesulitan berjalan. Gejala yang paling dikenal adalah kelumpuhan pada kaki (leg paralysis) atau kelumpuhan pada jari kaki (curled toe paralysis). Beberapa gejala tersebut akhirnya akan berakibat pada menurunnya produksi telur dan daya tetas (Saif, 2003).
Defisiensi riboflavin menyebabkan penurunan tngkat pertumbuhan dan penggunaan pakan. Rboflavin esensial sebagai penyusun system enzim dalam tubuh. Penting dalam meningkatkan penggunaan energi pakan dan nutrient dalam ransum. Belum terdefinisikan berapa banyak ribovlavin dapat memperbaiki ophtalmia. “ophtalmia Periodik” dapat menyebabkan kerusakan mata, katarak, dan kebutaan.
Vitamin B3 (nicotinamide)
Vitamin B3 atau lebih dikenal sebagai niasin atau nicotinamide berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi. Vitamin ini dapat ditemukan pada jagung, biji bunga matahari dan hampir semua bungkil biji-bijian. Kekurangan vitamin B3 menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan lambat, turunnya produksi telur dan daya tetas, membran mukosa menjadi berwarna merah gelap, perubahan pada tulang paha serta kadang terjadi diare yang disertai darah.
Vitamin B5 (asam pantotenat)
Vitamin B5 atau yang lebih dikenal sebagai asam pantotenat berfungsi sebagai komponen koenzim A dalam metabolisme karbohidrat, asam lemak, asam amino dan steroid. Asam pantotenat banyak terkandung dalam bungkil biji bunga matahari. Defisiensi asam pantotenat akan menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan terhambat, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti paruh, kelopak mata dan jari kaki, warna bulu menjadi kasar dan buram, serta menyebabkan turunnya produksi dan daya tetas telur.
Vitamin B6 (piridoxin)
Nama lain dari Vitamin B6 adalah “yeast evaluate factor”, adermia, faktor anti acrodenia pada tikus. Selanjutnya sebutan Vitamin B6 yang mempunyai aktivitas biologis “Aktivitas Vitamin B6” dan ”defisiensi Vitamin B6” lebih tepat digunakan. Vitamin B6 termasuk tiga senyawa : piridoksin, pyridoksal, dan pyrdoksamin, juga ada bentuk lain pyridoksin. Aktivitasnya ketiga senyawa tersebut sama dalam tubuh ternak. Namun sangat berbeda aktivitasnya pada beberapa mikroorganisme. Pada ragi, organ glandular, dan daging sebagian besa vitamin B6 ada dalam bentuk pyridoksal, dan pyrdoksamin. Jadi mempelajari vitamin harus mengingat bentuk keberadaan vitamin dalam pakan kekefektifannya responnya terhadap ternak dan mikroorganisme. Namun pada kuda belum ada informasi tentang bentuk keefektifannya.
Vitamin B6 atau piridoxin berfungsi untuk metabolisme protein dan lemak dalam tubuh. Vitamin B6 dapat ditemukan hampir disemua bungkil biji-bijian. Selain menyebabkan nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat, defisiensi vitamin B6 ini akan menyebabkan bulu tumbuh jarang (tidak merata) dan kasar, produksi telur serta daya tetas telur menurun (Roche, 1979).
Fungsi Vitamin B6 berhubungan dengan system enzim dan berperan dalam penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam mencerna pakan. Tanpa adanya Vitamin B6 asam amino trptofan tidak dapat digunakan oleh ternak. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan kegagalan reproduksi, anemia, dermatitis, degenerasi sel saraf dan gangguan penglihatan.
Vitamin B9 (asam folat)
Vitamin B9 atau yang lebih sering disebut sebagai asam folat berfungsi untuk metabolisme karbohidrat. Asam folat dapat ditemukan pada biji gandum. Defisiensi asam folat akan menyebabkan pertumbuhan lambat, anemia, menurunnya daya tetas serta bulu yang kasar dan jarang (Roche, 1979).
Vitamin B12 (cyanocobalamin)
Vitamin B12 atau sering disebut sebagai cyanocobalamin berfungsi untuk metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Tidak seperti vitamin B lainnya, vitamin B12 bisa terakumulasi di jaringan, utamanya di hati dan sedikit di ginjal, otot, tulang dan kulit (Weber, 2009). Defisiensi vitamin B12 akan mengakibatkan pertumbuhan lambat, ukuran telur kecil-kecil dan daya tetas menurun.
Fungsi Vitamin B12 berhubungan dengan penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam penggunaan pakan. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan reproduksi, anemia, inkordinasi bagian posterior, langkah tidak tetap, rendahnya nafsu makan, hiperiritbilitas, dan bulu kasar. Defisiensi Vitamin B12 tidak ditemukan pada kuda. Beberapa penyakit defisiensi ditemukan pada hewan lain, bukan pada kuda.
Biotin
Biotin sering dikenal sebagai Vitamin B7. Vitamin ini berfungsi dalam metabolisme karbohidrat dan lemak dalam produksi energi. Biotin dapat ditemukan pada tepung ikan dan biji gandum. Defisiensi biotin menyebabkan kulit mengeras pada daerah paruh dan mata (hampir sama seperti pada saat terjadi defisiensi asam pantotenat). Selain itu bisa terjadi juga kelainan pada tulang rawan dan menurunnya daya tetas.
Vitamin C (asam askorbat)
Vitamin C disebut juga asam askorbat, asam “Cevitamic”, antiskorbut, skorbutamin, dan asam heksuronat. Sebutan vitamin C digunakan untuk seluruh senyawa yang mempunyai aktivitas biologi asam askorbat. Satu unit vitamin C adalah aktivitas yang terkandung dalam 0,05 mg vitamin. Jadi 1 mg vitamin C setara dengan 20 IU vitamin C. Aktivitas vitamin C biasanya diekspresikan dalam miligram vitamin C. Vitamin C ini berfungsi untuk metabolisme sel dan sebagai anti oksidan. Defisiensi vitamin C tidak terjadi pada ternak namun vitamin C bermanfaat dalam situasi ayam yang stres karena panas atau kondisi lain (Weber, 2009).
Tabel 1 adalah tabel rekomendasi kadar vitamin yang dibutuhkan berdasarkan National Research Council (NRC), AWT German Trade Association dan DSM Vitamin Suplementation Guidelines yang dihitung berdasarkan pemberian makan harian dalam range 80 hingga 120 gram per hari. NRC menentukan jumlah minimum vitamin yang dibutuhkan sedangkan AWT dan DSM merekomendasikan suplementasi vitamin di atas kadar alami vitamin dalam ransum (Weber, 2009).
2.4 Hubungan Manajemen Penyimpanan Ransum dengan Defisiensi Nutrisi
Dalam suatu formulasi ransum, kadar vitamin dalam ransum umumnya telah disesuaikan dengan jumlah kebutuhan vitamin bagi unggas dan mampu dicukupi melalui asupan ransum yang berasal dari pabrikan. Namun pada kenyataannya, kadar vitamin tersebut dapat hilang pada waktu bahan pakan diproses atau selama ransum disimpan dalam gudang penyimpanan.
Potensi vitamin juga bisa menurun akibat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu yang ekstrim, cahaya dan oksidasi. Contohnya saja vitamin seperti A, D, E dan C yang tidak stabil terhadap panas, cahaya dan kelembaban. Vitamin B1 dan asam pantotenat juga bisa rusak akibat pengolahan atau penyimpanan ransum yang kurang baik. Karena alasan itulah, maka sulit untuk menjamin bahwa vitamin akan stabil kadarnya dalam ransum terlebih jika ransum menjalani proses pengangkutan yang cukup jauh.
Untuk memastikan bahwa ransum yang kita berikan pada ayam tidak mengalami defisiensi vitamin, maka salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah dengan mengatur manajemen penyimpanan ransum melalui tindakan sebagai berikut :
  1. Berikan alas (pallet) pada tumpukan ransom
  2. Atur posisi penyimpanan ransum sesuai dengan waktu kedatangannya (first in first out, FIFO)
  3. Simpan ransum dalam tempat yang tertutup dan terhindar dari sinar matahari langsung
  4. Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan ransom
  5. Sebaiknya ransum disimpan dalam gudang penyimpanan tidak lebih dari 30 hari agar kualitas nutrisi, termasuk vitamin, di dalamnya tidak menurun
  6. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin
  7. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur
2.5 Stres dan Vitamin
Indonesia memiliki iklim tropis dengan 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kondisi musim yang tidak menentu akhir-akhir ini semakin membuat ayam tidak nyaman dan mudah sekali mengalami stres. Kondisi stres akibat pengaruh perubahan cuaca sangat berperan besar memunculkan kasus defisiensi vitamin, karena saat stres tubuh akan kehilangan sejumlah besar vitamin.
Ayam memang merupakan ternak yang sangat rentan terhadap stres. Dampak nyata stres pada ayam apabila tidak ditangani dengan baik adalah penurunan produksi, baik berupa telur bagi ayam petelur maupun penurunan berat badan bagi ayam pedaging. Hal ini disebabkan turunnya nafsu makan dan minum sehingga kekebalan tubuh ayam berkurang dan akibatnya ayam menjadi mudah terserang penyakit. Faktor penyebab stres selain faktor cuaca diantaranya adalah :
  • Sirkulasi udara dalam kandang yang tidak baik
  • Suhu dan kelembaban dalam kandang meningkat
  • Populasi ayam dalam kandang yang terlalu padat
  • Suara bising
  • Kekurangan ransum
  • Pergantian ransum mendadak
  • Vaksinasi
  • Perlakuan kasar, potong paruh, pindah kandang, dll
Salah satu kejadian stres yang seringkali ditemukan di lapangan ialah kejadian heat stress. Data yang diperoleh oleh tim Technical Service Medion (2010) melaporkan bahwa kejadian heat stress pada ayam pedaging dan petelur masing-masing sebesar 0,41% dan 0,6% dari total kejadian penyakit di tahun 2010. Ayam yang terserang stres dapat dipulihkan kondisinya dengan cara menghilangkan faktor penyebab stres tersebut. Namun demikian, ternyata vitamin berperan besar dalam hal ini karena proses pemulihan stres sangat didukung oleh pemberian vitamin. Pemberian vitamin dapat mempertinggi ketahanan tubuh ayam saat stres serta menjaga proses metabolisme tubuh berjalan dengan normal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ayam komersial saat ini sangat rentan terhadap stres, baik itu stres yang disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan yang kurang baik maupun stres akibat pengaruh cuaca/suhu lingkungan. Oleh karena itu, suplementasi vitamin tentu sangat diperlukan. Vitamin dapat ditambahkan ke dalam ransum maupun ke dalam air minum ayam. Vitamin biasanya dapat diberikan ketika ayam pertama kali chick in (masuk ke kandang), sebelum dan setelah vaksinasi, setelah pengobatan, ketika sakit, pindah kandang, cuaca buruk dan saat pergantian ransum.
Berbagai produk vitamin telah banyak dijual di pasaran, salah satunya ialah Vita Stress yang diproduksi oleh Medion. Vita Stress mengandung vitamin lengkap (vitamin A, D3, E, K. B1, B2, B6, B12, C, nicotinic acid dan calcium-D-pantothenate) dan elektrolit (natrium, kalium, kalsium dan magnesium) yang dibutuhkan oleh ayam untuk menambah daya tahan tubuh dan mencegah stres pada waktu sebelum dan sesudah vaksinasi, setelah potong paruh, pindah kandang, penggantian ransum, cuaca yang buruk dan pada musim rontok bulu. Vita Stress juga bisa mencegah terjadinya defisiensi vitamin pada ayam yang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi telur dan gangguan pertumbuhan bulu.
III. KESIMPULAN
Vitamin yang dibutuhkan oleh kuda terdiri atas 11 jenis vitamin B kompleks, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak, dan vitamin C. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan, namun defisiensi dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan berkualitas rendah atau pakan yang tidak ditambah suplemen vitamin. Sebagan besar vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin C dan vitamin B komplek dapat disintesis oleh mikroorganisme dalam usus ternak ruminan, namun tidak untuk disimpan. Jumlah yang disintesis tergantung dari jenis vitamin dan jenis ransum yang dimakan. Suplementasi vitamin harus diberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain.
Walaupun dapat disintesis oleh kuda, vitamin C sangat dibutuhkan terutama saat cuaca panas, kondisi stress selama percepatan pertumbuhan atau memperbaiki performan, dan jika ada factor penghambat sintesis vitamin C. Pada situasi tertentu, seperti kerja berat (selama latihan), balapan, atau perbaikan performan, suplementasi vitamin B kompleks menguntungkan. Sejauh ini toksisitas vitamin belum ada laporan karena kelebihannya segera dieksresikan dan keluar bersama feses. Setelah mengenal lebih mendalam mengenai jenis dan fungsi vitamin serta dinamika kebutuhannya, kita menjadi lebih paham bahwa sebenarnya ternak kita sangat memerlukan vitamin yang sesuai dengan dosis yang cukup. Ingat, bahwa ada banyak risiko dan kerugian yang ditimbulkan bila ternak kita sudah mengalami defisiensi vitamin, oleh karena itu marilah kita lakukan tindakan preventif dengan mengatur kembali tata laksana pemeliharaan ayam baik dari penyimpanan ransum, manajemen stres lingkungan dan ketepatan penggunaan vitamin.
DAFTAR PUSTAKA
Cunha, T.J. 1980. Horse Feeding and Nutrition. Academic Press New York London,
Toronto, Sydney, San Fransisco.
NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National
Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA.
Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung.
Pilliang, W.G. 1995. Nutrisi Vitamin. Volume II. Penerbit IPB, Bogor.
Pilliner, S. 1992. Horse Nutrtion and Feeding. Blackwell Science, Australia.

AMPAS BIR MENINGKATKAN PERFORMANS TERNAK RUMINANSIA



AMPAS BIR DALAM PENGEMBANGAN  PETERNAKAN
DI INDONESIA

Adijaya Tangkas


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penduduk Indonesia setiap tahun terus bertambah. Menurut data sensus terakhir jumlah penduduk Indonesia 202 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar akan menyebabkan kebutuhan pangan asal ternak semakin meningkat. Untuk lebih jelas data produksi daging sapi dan kebutuhan daging unggas adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Produksi Daging Sapi dan Konsumsi Daging Ayam Broiler
No
Tahun
Produksi Daging Sapi
(000 MT)*
Kebutuhan Daging Unggas
(kg/kapita/tahun)**
1
2001
1.128
1.73
2
2002
1.193
-
3
2003
1.445
2.30
4
2004
1.451
2.53
5
2005
-
3.70
Dari tabel di atas tampak bahwa baik produksi daging sapi maupun kebutuhan daging unggas dari tahun ke tahun terus meningkat. Kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut seiring dengan kondisi ekonomi yang semakin baik. Bahkan untuk konsumsi daging unggas diproyeksikan dua kali lipat pada tahun 2005 dibandingkan dengan tahun
1998. Keadaan ini memberikan peluang yang sangat besar bagi dunia perunggasan. Fenomena tersebut dirasakan dengan banyak berdirinya perusahaan peternakan, penggemukan sapi potong dan unggas baik untuk skala usaha besar maupun kecil.
Produktifitas sapi dipengaruhi antara lain oleh pakan yang dikonsumsinya. Dimaayarakat pedesaan, ternak masih dipelihara dengan cara tradisional dengan pakan seadanya. Pada saat musim kemarau panjang, peternak kesulitan mendapatkan pakan hijauan yang berkualitas baik. Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya konsentrat memegang peranan penting untuk peningkatan produktifitas ternak.
Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas, kuantitas dan kontiyunitas. Hijauan memiliki kandungan protein kasar dan nilai kecernaan sangat rendah. Pada musim kemarau yang panjang atau lebih dari 6 bulan dalam setahun menyebabkan ketersediaan hijauan selama musim tersebut menjadi sangat sulit diandalkan. Selain itu, pemeliharaan yang masih dilakukan secara traditional menjadi penyebab rendahnya produktifitas ternak yang dipelihara masyarakat.
Banyak berdirinya perusahaan ternak, ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang mencukupi. Kenyataan ini mengakibatkan masih diimpornya bahan pakan. Hal ini diakibatkan karena terjadi krisis ekonomi yang parah akibat kondisi politik yang tidak stabil. Sebenarnya impor bahan pakan dapat dikurangi atau mungkin tidak sama sekali, bila kita mampu memanfaatkan sumber daya yang ada, misalkan dengan memanfaatkan ampas bir. Pada hakekatnya pemanfaatan hasil ikutan merupakan pendaurulangan sumber daya alam sehingga dapat lebih bermanfaat bagi penanggulangan kelangkaan pakan.
Ketersediaan hasil ikutan jumlahnya cukup melimpah dan terkonsentrasi di daerah tertentu, seperti halnya di daerah Jawa Barat hanya terdapat pada kota-kota tertentu yaitu Bogor, Bandung dan Sumedang. Peternak di daerah tersebut dapat memanfaatkan ampas bir tersebut untuk makanan ternaknya. Walaupun harganya sangat tergantung pada jarak, kandungan bahan kering dan alternatif penggunaannya.
1.2 Issue Pokok
Bir dibuat dari bahan baku gandum, beras dan jagung.Ampas bir cukup disukai ternak, secara kualitatif tepung ampas bir dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur rasa, warna dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas ampas bir yang baik. Secara kuantitatif untuk mengetahui kualitas ampas bir, analisis PK dan SK perlu dilakukan.
1.3 Tujuan
Tujuan dari ampas bir adalah :
  1. Alternative pakan tambahan bagi ternak yang masih banyak menganduk zat makanan yang bermanfaat
  2. Pemanfaatan limbah yang tidak terpakai menjadi pakan tambahan
1.4 Manfaat
Limbah dari hasil industri pembuatan bir (ampas bir) merupakan salah satu alternative bahan pakan ternak yang masih mengandung protein tinggi. Pemanfaatan ampas bir diharapkan akan dapat menggantikan peran konsentrat dalam pakan ternak ruminansia. Seberapa besar produktifitas dan keuntungan ekonomis yang diperoleh dengan system pemeliharaan feedlot menggunakan bahan pakan tersebut.
BAB II
PERANAN
2.1 Deskriptif
Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ampas bir merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan bir yang banyak terdapat di Indonesia. Oleh karena itu untuk menghasilkan ampas bir tidak terlepas dari proses pembuatan bir.
Ditinjau dari komposisi kimianya ampas bir dapat digunakan sebagai sumber protein. Korossi (1982) menyatakan bahwa ampas bir lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan ampas tahu. Sedangkan Pulungan, dkk. (1985) melaporkan bahwa ampas bir mengandung NDF, ADF yang rendah sedangkan presentase protein tinggi yang menunjukkan ampas bir berkualitas tinggi, tetapi mengandung bahan kering rendah. Komposisi zat gizi ampas bir dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Komposisi Zat-zat Makanan Ampas bir
Bahan
BK (%)
Prk (%)
SK (%)
LK (%)
NDF (%)
ADF (%)
Abu (%)
Ca (%)
P
(%)
Eb (Kkal)
Ampas Bir
13.3
21.0
23.58
10.49
51.93
25.63
2.96
0.53
0.24
4730
Ampas bir juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas bir juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).
2.2 Kelebihan
Grain bir, Makan Bir juga disebut, adalah produk-oleh dari produksi bir yang merupakan protein tingkat menengah (CP> 26%) feedstuff digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten. Hal ini sangat cocok dan dapat digunakan dalam berbagai ransum. butir bir kering adalah protein feedstuff tingkat menengah digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten.
2.3 Kelemahan
Meskipun ampas bir merupakan salah satu pakan tambahan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi tapi penggunaan ampas bir yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh negative pada ternak. Biasanya penggunaan yang berlebihan akan mengakibatkan ganguan pencernaan pada ternak ruminansia dan stress pada ternak non ruminansia.
2.4 Peranan
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas bir sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas bir telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996).
Penelitian telah dilakukan pada domba oleh Pulungan, dkk., (1984), di mana ternak percobaannya diberi ransum perlakuan (A) rumput lapangan (ad libitum), (B) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir 1,25% BB, (C) rumput lapangan (ad libitum) + ampas tahu 2,5% BB, (D) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir (ad libitum). Hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa domba yang mendapat rumput berkualitas rendah, ampas bir dapat diberikan sebagai ransum penggemukan dan dapat diberikan secara tak terbatas.
Knipscheer et al. (1983) melakukan penelitian pada kambing dan menyimpulkan bahwa pemberian ampas tahu dapat memberikan keuntungan dalam usaha peternakan kambing atau domba yang dipelihara secara intensif.
Ampas tahu merupakan sumber protein yang mudah terdegradasi di dalam rumen (Suryahadi, 1990) dengan laju degradasi sebesar 9,8% per jam dan rataan kecepatan produksi N-amonia nettonya sebesar 0,677 mM per jam (Sutardi, 1983). Penggunaan protein ampas tahu diharapkan akan lebih tinggi bila dilindungi dari degradasi dalam rumen (Suryahadi, 1990).
Penelitian yang dilakukan Karimullan (1991) menunjukkan bahwa perlindungan ampas tahu dengan tanin menurunkan kadar amonia cairan rumen, hal ini berarti bahwa pemanfaatan protein ampas tahu dapat secara langsung digunakan oleh induk semang tanpa mengalami degradasi oleh mikroba rumen (protein by pass). Namun demikian perlindungan ini juga menyebabkan kadar VFA menurun dan diikuti pula dengan penurunan bakteri dan protozoa rumen. Kemungkinan besar karena pasokan nutrien ampas tahu, begitu pula dengan protozoa tidak cukup suplai bakteri dan nutriennya bagi kebutuhan untuk pertumbuhannya akibat perlindungan ampas tahu tersebut oleh tannin gambir.
2.5 Strategi
Penggunaan ampas bir sangat berguna sebagai pakan tambahan, dimana dari ampas bir ini peternak tidak perlu khawatir dengan harga pakan tambahan yang tinggi. Hal ini sebagai alternative pengganti bungkil dan bahan pakan lain yang dapat digantikan oleh ampas bir.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari studi literatur yang dilanjutkan dengan hasil pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :
  1. Ampas bir memiliki nilai nutrisi yang baik dan digolongkan ke dalam bahan pakan sebagai sumber protein.
  2. Ampas bir apabila diolah dan diawetkan, baik secara kering maupun secara basah dapat dimanfaatkan dan disimpan dalam waktu yang cukup lama.
  3. Ampas bir digunakan sebagai ransum memberikan pengaruh yang baik terhadap performans ternak ruminansia.
  4. Ampas bir apabila diproteksi dengan tannin dalam rumen akan tanah terhadap degradasi, hal ini dicerminkan dengan menurunnya konsentrasi VFA NH3, bakteri, dan protozoa rumen.
3.2 Saran
Perlu ada penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah ampas bir dalam penggunaan ampas bir sebagai bahan pakan tambahan bagi ternak.

Selasa, 12 Juni 2012

Pembuatan Silase

Pengolahan Pakan Ternak dengan SILASE KOMPLIT* dalam Upaya Penyediaan Bahan Pakan di Musim Kemarau

Oleh Drh M. Fakhrul Ulum dengan beberapa perubahan yang sesuai.
* diadopsi dari Sofyan dan Febrisiantosa, 2007 peneliti UPT. BPPTK – LIPI, Yogyakarta


“SILASE KOMPLIT” sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pakan Ternak
Problematika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti Indonesia adalah faktor suhu lingkungan dan kelembaban udara yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan enggan makan sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang. Padahal, asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan bereproduksi. Implikasi dari kondisi asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (average daily gain/ADG) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri.
Faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan keberhasilan budidaya peternakan.
Ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan nutrient. Diantaranya adalah:
1.    Bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna.
2.       Ketersedian pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan awetan hijauan (silase). Pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan musim/panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kausus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga kadar nutrient sesuai dengan kebutuhan gizi ternak.

Kenapa dibuat SILASE KOMPLIT?
Hal ini dikarenakan sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi, sehingga perlu teknologi pengolahan agar nilai kecernaannya maningkat. Salah satu pengolahan yang bisa dilakukan adalah dalam bentuk silase. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80 persen). Keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi.
Konsep teknologi silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Dalam praktek di lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.

Keunggulan SILASE KOMPLIT
Berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah:
1)    Lebih mudah dalam pembuatannya karena tidak perlu memerlukan tempat pemeraman yang an-aerob, cukup dengan semi aerob.
2)    Kandungan gizi yang dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.
3)    Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).

Teknik Pembuatan SILASE KOMPLIT
Prinsip pembuatan pakan komplit dalam bentuk silase ini seperti proses fermentasi pada umumnya. Setelah bahan disiapkan dan dicampur, selanjutnya diperam selama beberapa minggu dalam wadah yang tertutup rapat (anaerob). Teknik pembuatan silase komplit yaitu:

A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari 3 kelompok bahan yakni:
1)      Kelompok bahan pakan hijauan
Bahan pakan hijauan disini dapat berupa bahan pakan dari hijauan makanan ternak (HMT) seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput kolonjono (Panicum muticum), Tanaman Jagung (Zea mays) dan rumput-rumput lainnya. Selain dari HMT, limbah-limbah dari sisa panen seperti jermai padi, jerami kedelai juga dapat digunakan. Bahan pakan ini sebagai sember serat utama.
2)      Kelompok bahan pakan konsentrat
Kelompok bahan pakan konsentrat dapat berupa dedak padi/bekatul, onggok (ampas tapioka), ampas sagu, ampas tahu dan lain-lain. Bahan pakan konsentrat ini selain untuk memperbaiki kandungan nutrisi dari pakan yang dihasilkan juga berfungsi sebagai substrat penopang proses fermentasi (ensilase).
3)    Kelompok bahan pakan aditif.
Kelompok ketiga adalah bahan-bahan aditif. Bahan aditif disini dapat terdiri dari campuran urea, mineral, tetes dan lain-lain.

B. Rasio Bahan
Rasio dari ketiga kelompok bahan tadi dapat mengacu pada formula 7:2:1 atau 6:3:1 berturut-turut untuk Hijauan : Konsentrat : Aditif yang didasarkan pada persentase berat.

C. Pencampuran
Pencampuran dilakukan dengan urutan komponen bahan aditif dicampur dulu dengan konsentrat hingga merata selanjutnya dicampurkan ke hijauan. Jika kondisi hijauan atau limbah petanian agak kering maka diperlukan tambahan air sehingga kadar air campuran mencapai + 40 persen.
Masukkan bahan silase kedalam drum yang telah dilapisi plastik tebal. Tutup dan tekan dengan kuat atau diinjak-injak agar udara didalam keluar. Kemudian ikat plastik tersebut secara rapih, rapat dan tidak ada udara masuk ke dalam, serta jangan sampai bocor. Tutup drum rapat-rapat dengan penutupnya.

D. Pengeraman
Setelah semua bahan dimasukkan dan tertutup rapat dalam drum kemudian dieramkan dengan disimpan selama 3 minggu (21 hari). Silase  dapat dibuka (dipanen) untuk diberikan langsung kepada ternak. Apabila silase yang dinuat tidak langsung diberikan pada ternak, silase jangan dibuka. Silase harus disimpan dalam kondisi tertutup dan dapat disimpan hingga 4 – 8 bulan.

E. Pemberian Pakan Pada Ternak
Pada waktu pemberian kepada ternak jangan sering dibuka-tutup, dalam 1 hari cuma boleh dibuka 1 kali (untuk makan ternak pagi dan sore dikeluarkan sekaligus) sebab kalau sering dibuka tutup kualitas silase akan cepat rusak. Apabila sapi belum terbiasa makan silase, silase diberikan sedikit demi sedikit dengan cara dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Jika sudah terbiasa dapat seluruhnya diberikan silase sesuai dengan kebutuhan.

Penyediaan Pakan saat Musim Kemarau
Pembuatan silase komplit dapat dijadikan salah satu cara untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas gizi pakan ternak. Pada kondisi hijauan melimpah di musim penghujan, bahan pakan hijauan baik berupa HMT maupun sisa tanaman pangan diperam dengan penambahan bahan konsentrat akan dapat tahan sampai 4-8 bulan. Persediaan pakan ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak saat musim kemarau. Dengan demikian menerapkan teknologi ini dapat memberikan solusi pemenuhan pakan di musim kemarau sekaligus dapat mempertahankan kualitas asupan gizi untuk ternak.

Referensi
Annonimous. 2008. Teknologi, Alat dan Mesin Peternakan. Modul Diklat Teknis Substantif Peternakan Tingkat Dasar. Teknologi Peternakan dan Alsin. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat
Anonimous. 2001. Pengawetan Hijauan Untuk Pakan Ternak (Silase). Proyek Peningkatan Teknologi Sapi Perah. Direktorat Jenderal Peternakan. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. JICA Japan. Jawa Barat.
Sofyan A. dan Febrisiantosa A. 2007. Pakan Ternak dengan Silase Komplit. UPT. BPPTK – LIPI, Yogyakarta. Sumber: Majalah INOVASI Edisi 5 Desember 2007.

Berbagai Jenis HMT untuk Ternak Sapi

Mengenal ragam HMT (Hijauan Makan Ternak) Bagi peternak pemula sangatlah penting sebelum memutuskan untuk beternak sapi. Bagaimanapun juga Sapi tetap memerlukan HMT untuk kebutuhan hidupnya layaknya manusia. Sapi Bali dengan salah satu keunggulannya yang mampu bertahan dan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi iklim dan cuaca khususnya di daerah kami, Desa Lokapaksa dengan kondisi alam yang panas di musim kemarau sudah tentu bagi petani ternak mesti menyiasatinya dengan berbagai persiapan dalam rangka menghadapi kekeringan di musim kemarau. Berbagai persiapan mesti dilakukan diantaranya : dengan menabung pakan dari limbah pertanian saat musim penghujan/saat pakan berlimpah baik dengan metode SILASE ataupun HAY, Serta menggiatkan penanaman beragam HMT di lahan pertanian mereka, nah untuk mengenal lebih dekat Ragam HMT Untuk Ternak Sapi dapat disampaikan sebagai berikut :

1. KING GRASS (RUMPUT RAJA) 

Rumput raja adalah jenis rumput baru yang belum banyak dikenal, yang merupakan hasil persilangan antara pennisetum purpereum (rumput gajah) dengan pennisetum tydoides, rumput ini mudah ditanam, dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, menyukai tanah subur dan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Produksi rumput ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumput lainnya.
Penanaman rumput gajah dapat dilakukan dengan stek maupun sobekan rumput stek terlebih dahulu dipotong-potong sepanjang 25-30 cm atau paling sedikit terdiri dari dua mata. Sedangkan bila menggunakan sobekan rumpun anak dipilih rumpun muda yang tingginya 20-25 cm. Kebutuhan bibit per hektar dengan jarak tanam 1 x 1 m adalah sebanyak 10.000 stek atau rumpun. Waktu tanam yang baik adalah pada awal sampai pertengahan musim hujan, sehingga pada musim kemarau nanti akan tanaman sudah dalam dan cukup kuat.


Pada penanaman dengan stek harus diperhatikan. Mata tunas jangan sampai terbalik karena akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Stek dapat langsung ditancapkan setengahnya ke dalam tanah dengan tegak lurus atau miring serta jarak tanam 1 x 1 m. Untuk penanaman dengan sobekan rumpun, terlebih dahulu dibuat lobang sedalam 20 cm. Pada tanah miring tanah tidak perlu diolah, cukup dibuat lubang-lubang menurut kontur tanahnya sedemikian rupa sehingga sekaligus dapat berfungsi ganda sebagai penahan erosi. Jarak tanam dalam baris untuk tanah miring dianjurkan 50 cm dan jarak antar baris adalah 1 meter. Pemupukan pertama dilakukan pada waktu pengolahan (perataan) tanah yaitu dengan menggunakan 10 ton pupuk kandang/ha, 50 kg kcl dan 50 kg sp36/ha.
Pemupukan selanjutnya dilakukan setelah tiga kali pemotongan dengan dosis yang sama. Tanaman rumput raja memerlukan pemeliharaan yang teratur untuk memperoleh hasil yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat. Untuk itu perlu dilakukan penyiangan terhadap gulma agar tidak terjadi persaingan. Pada waktu penyiangan perlu diadakan penggemburan tanah dan pembumbunan disekitar rumpun tanaman.
 

Pemotongan pertama dapat dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan sebagai potong paksa, ini bertujuan untuk menyamakan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan jumlah anakan. Pemotongan berikutnya dilakukan sekali setiap 6 minggu, kecuali pada waktu musim kemarau waktu potong sebaiknya diperpanjang. Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Kebutuhan ternak sapi akan hujauan segar menurut perkiraan aksar yaitu 10% dari berat badan per hari per ekor. Apabila berat seekor sapi perah 600 kg, maka kebutuhan hijauan per hari adalah 60 kg, jadi kebutuhan akan hijauan per tahun 365 x 80 kg = 21,9 ton.

2. TANAMAN LAMTORO (Leucaena leucocephala)

Lamtoro (Leucaena leucocephala) termasuk jenis pohon legum yang bersifat perennial dengan perakaranyang dalam. Dapat tumbuh denganbaik pada daerah kering Pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap pemangkasan yang ber-ulang-ulang.
 

Manfaat Lamtoro Daun, ranting muda, bunga, buah, bahkan bijinya merupakan bahan baku pakan ternak yang bermutu tinggi. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai tanaman pelindung, pagar hidup dan kayunya sangat baik serta potensial sebagai sumber kayu bangunan.
Tanda dan sifat lamtoro berdaun dan berbiji banyak, berbiji polong, bunga bulat, tumbuh tinggi, cepat dipanen dan menyuburkan tanah. 



Pemotongan/pemanenan pada tahun pertama dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan. Panen berikutnya 2-3 bulan sekali. Banyaknya daun lamtoro yang dihasilkan tergantung pada umur tanaman, kesuburan tanah, dan iklim Panen biji diperoleh setelah tananman berumur satutahun. Pemangkasan daun jangan sampai lebih rendah dari satu meterdi atas permukaan tanah. Daun dan bijinya lamtoro dapat diberikan pada ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, domba dan kambing baik secara segar maupun dikeringkan.
 

Dapat diberikan sebagai pakan tunggal atau dicampur dengan rumput-rumputan. Penggunaan daun lamtoro untuk menggantikan hijauan sebaiknya tidak melebihi dari 50 % kebutuhan hijauan pakan.  

3. TANAMAN CALLIANDRA (Calliandra Calothyrsus)
Marga Calliandra termasuk suku Leguminosae, anak-suku Mimosoideae dan kelompok Ingae. Calliandra merupakan marga yang besar, Calliandra calothyrsus adalah pohon kecil bercabang yang tumbuh mencapai tinggi maksimum 12 m dan diameter batang maksimum 20 cm. Kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil, pucat berbentuk oval. Ke arah pucuk batang cenderung bergerigi, dan pada pohon yang batangnya coklat-kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah. Di bawah batang, sistem akarnya terdiri dari beberapa akar tunjang dengan akar yang lebih halus yang jumlahnya sangat banyak dan memanjang sampai ke luar permukaan tanah.
 

Jika di dalam tanah terdapat rhizobia dan mikoriza, akan terbentuk asosiasi antara jamur dengan bintil-bintil akar. Dalam populasi jenis tertentu pertumbuhan akar tumbuh menyerupai akar penghisap sehingga tanaman membentuk rumpun yang sebenarnya merupakan satu tanaman tunggal saja. Jenis ini memiliki daun-daun yang lunak yang terbagi menjadi daun-daun kecil. Panjang daun utama dapat mencapai 20 cm dan lebarnya mencapai 15 cm dan pada malam hari daun-daun ini melipat ke arah batang. Tangkai daun bergerigi dengan semacam tulang di bagian permukaan atasnya, tetapi tidak memiliki kelenjar-kelenjar pada tulang sekundernya.
 

Di sebaran alaminya, tanaman ini berbunga sepanjang tahun, tetapi masa puncak pembungaannya terjadi antara bulan Juli dan Maret. Di Indonesia, musim berbunga jenis ini sangat bervariasi antara daerah satu dengan daerah lainnya, bergantung pada jumlah curah hujan dan persebarannya, dan puncaknya berlangsung antara bulan Januari dan April. Tandan bunga berkembang dalam posisi terpusat. Bunganya bergerombol di sekitar ujung batang. Bunga menjadi matang dari pangkal ke ujung selama beberapa bulan. Bunga ini mekar selama satu malam saja dengan benang-benang mencolok yang umumnya berwarna putih di pangkalnya dan merah di ujungnya. Sehari kemudian benang-benang ini akan layu dan bunga yang tidak mengalami pembuahan akan gugur.
 

Polong terbentuk selama dua sampai empat bulan dan ketika sudah masak, panjangnya dapat mencapai 14 cm dan lebarnya 2 cm. Polong berbentuk lurus dan berwarna agak coklat, dan berisi 8-12 bakal biji yang akan berkembang menjadi biji oval yang pipih. Permukaan biji yang sudah matang berbintik hitam dan coklat, dan terdapat tanda yang khas berbentuk ladam kuda pada kedua permukannya yang rata. Biji yang masak panjangnya dapat mencapai 8 mm dan keras ketika ditekan dengan kuku. Di tempat persebaran alaminya, puncak musim biji terjadi antara bulan November dan April. Di Indonesia, C. calothyrsus menghasilkan biji dari bulan Juli sampai November. Dengan keringnya polong, maka pinggirannya yang tebal mengeras sehingga polong merekah mendadak dari ujungnya. Bijinya keluar dengan gerakan berputar dan bisa terpental sejauh 10 m. Kecambah tumbuh dengan kedua keping biji muncul di atas permukaan tanah. Daun pertama hanya memiliki satu sumbu yang menjadi tempat tumbuh helai daun, tetapi daun berikutnya terbagi menjadi sumbu-sumbu sekunder.

Calliandra calothyrsus dapat beradaptasi pada berbagai lingkungan. Meskipun demikian, bila menanam jenis ini, penting untuk menggunakan sumber benih yang telah diketahui dapat tumbuh baik di lingkungan yang meyerupai lokasi penanaman. Selain itu, bahan pertanaman harus memberikan jasa atau produk yang diinginkan seperti pengendali erosi tanah, pohon peneduh, kayu bakar, dan hijauan ternak, atau untuk produksi benih. Pengenalan sumber benih yang baik untuk suatu lokasi penanaman, akan selalu menghasilkan peningkatan daya tahan, pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

4. TANAMAN GAMAL ( Gliricidia Maculate )
Gamal merupakan adalah jenis tanaman yang sangat mudah untuk dikembang biakan. Jika ingin menanam gamal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.  Yang pertama adalah memilih lahan yang cocok untuk tanaman ini. Gamal memang merupakan salah satu tanaman yang multi guna. Khusus sebagai pakan ternak hewan ruminansia terutama sapi, Gamal adalah kombinasi dan partner yang baik bagi rumput gajah (Pennisetum purpureum). Penanaman dapat dilakukan secara berselang seling baris dengan rumput Gajah dengan metoda alley cropping atau ditanam memanjang sebagai pagar hidup. Dengan cara ini manfaat yang diperoleh dapat berlipat ganda. Selain pupuk hijau, penahan angin juga sebagai bank protein bagi ternak ruminansia. Keunggulan lain dari gamal adalah kemampuan adaptasi yang sangat luas terhadap berbagai kondisi tanah dan klimat, mudah ditanam, dan mampu memproduksi biomasa yang cukup besar, selaras dengan kandungan nutrisi dan protein yang sangat tinggi.
 

Sedangkan kandungan racun dan zat anti nutrisi terutama bagi ternak monogastrik, walaupun perlu diwaspadai, merupakan kendala kecil bagi pemanfaatan gamal dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh. Apalagi dengan penanganan yang tepat (pelayuan/wilting) dan manajemen pakan yang baik, masalah ini dapat di minimalisir. Pun demikian kami tidak menyarankan untuk memberikan gamal pada ternak selain ruminansia.
Gamal juga merupakan tanaman yang tidak rewel dan relatif aman dari serangan hama. Ada literatur yang menyebutkan OPT berupa kutu kecil, aphid dan beberapa jenis serangga namun kerusakan yang ditimbulkannya tidak signifikan dan secara umum dapat diabaikan. Pemberian daun gamal (gliricidia) segar pada ternak ruminansia. dapat meningkatkan pertambahan bobot badan, penampilan, reproduksi dan produksi. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman leguminosa pohon tropis yang multi fungsi baik sebagai kayu bakar, tanaman pagar, pakan ternak dan pencegah erosi.


Sebagai pakan ternak ruminansia hijauan, gamal memiliki nilai gizi yang cukup baik yaitu 22,1% bahan kering, 23,5% protein dan 4200 Kcal/kg energi. Untuk mengurangi kadar kumarin yang menyebabkan aroma daun gamal tidak sedap, kadar kumarinnya bisa diturunkan melalui perlakuan pengeringan dengan sinar matahari antara 30-90 menit. Semakin lama waktu penjemuran, semakin banyak kumarin yang hilang. Proses pelayuan pada suhu kamar selama 24 jam dapat menghilangkan kadar kumarin sampai 77%. Pemberian ransum daun gamal secara kontinyu hingga 100% dan 100-200 g g/ekor/hari konsentrat berpengaruh positif pada domba ekor gemuk yang ditunjukkan dengan meningkatnya bobot badan, kinerja reproduksi dan produksi pada perkawinan kedua.
Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Di Amerika Tengah, daun dan kulit kayu yang ditumbuk dicampur dengan rebusan biji jagung digunakan sebagai racun tikus dan racun binatang pengerat (rodenticidal). Di beberapa daerah pesisir Jawa Barat juga ditemukan penggunaan kulit batang dan biji Gamal sebagai campuran bahan pembuat racun ikan. Sekurangnya ada beberapa jenis komponen racun dalam Gamal.
 

Zat racun yang pertama adalah dicoumerol, suatu senyawa yang mengikat vitamin K dan dapat mengganggu serta menggumpalkan darah. Dicoumerol diperkirakan merupakan hasil konversi dari coumarin yang disebabkan oleh bakteri ketika terjadi fermentasi. Meskipun coumarin tidak beracun, ketika berubah menjadi senyawa dicoumerol dapat berbahaya bagi pengonsumsinya, terutama pada ternak monogastrik seperti kelinci dan unggas. Fakta lapangan menunjukkan tidak banyak ternak ruminansia yang keracunan dicoumerol yang disebabkan oleh daun Gamal. Senyawa racun yang kedua adalah HCN (Hydro Cyanic Acid), sering disebut juga Prussic Acid, Asam Prusik atau Asam Sianida. Meskipun kandungan HCN dalam Gamal tergolong rendah, 4mg/kg, dibanding umbi singkong/ketela pohon yang dapat mencapai 50-100mg/kg namun hal ini perlu juga diwaspadai. Zat lain yang perlu diperhatikan adalah Nitrat (NO3). Sebetulnya nitrat itu sendiri tidak beracun terhadap ternak, tapi pada jumlah yang banyak dapat menyebabkan penyakit yang disebut keracunan nitrat (nitrate poisoning). Nitrate yang secara alamiah terdapat pada tanaman di rubah menjadi nitrit oleh proses pencernaan, pada gilirannya nitrit dikonversi menjadi amonia. 

Amonia kemudian di konversi lagi menjadi protein oleh bakteri dalam rumen. Apabila ternak sapi mengkonsumsi banyak hijauan yang mengandung nitrat dalam jumlah besar, nitrit akan terakumulasi di dalam rumen. Nitrit sekurangnya 10 kali lebih beracun terhadap ternak sapi dibandingkan nitrat. Nitrit diserap kedalam sel darah merah dan bersaru dengan molekul pengangkut oksigen, hemoglobin sehingga membentuk methemoglobin. Sayangnya, methemoglobin tidak dapat membawa oksigen dengan efisien seperti hemoglobin, akibatnya detak jantung dan pernafasan ternak meningkat, darah dan lapisan kulit berubah warna menjadi biru kecoklat coklatan, otot gemetar, sempoyongan dan bila tidak segera ditangani dapat mati lemas. Selain itu, dalam Gamal juga terdapat molekul alkaloid yang belum dapat diidentifikasi dan senyawa pengikat protein yang juga tergolong zat anti nutrisi, tannin walaupun dalam konsentrasi yang cukup rendah dibandingkan Kaliandra (Calliandra calothrysus). Pun demikian, kasus-kasus keracunan pada pemakanan yang teratur sangat terbatas. 

Bukti bukti diatas memang menunjukkan bahwa Gliricidia dapat menyebabkan keracunan pada ternak non-ruminansia, tapi fakta lapangan yang mendukung hal tersebut sangat sedikit. Bahkan menurut Lowry (1990), masalah utama dari Gliricidia bukan pada tingkat racunnya, tetapi pada tingkat kesukaan (palatability). Seperti telah dikemukakan diatas, ternak cenderung menolak daun Gamal baru dengan mengendusnya saja, belum dicicipi. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa masalahnya berasal dari suatu senyawa yang menghasilkan aroma yang menguap dan keluar dari permukaan daun dan tidak disukai ternak. Hal ini didukung oleh fakta lapangan yang kami temui.

Meskipun Gamal dapat diperbanyak dengan biji, tapi kami lebih sering menggunakan setek batang dalam usaha mengembangbiakan Gamal. Alasan pertama adalah, sulitnya mencari dan mengumpulkan biji Gamal. Di berbagai tempat yang kami temui, jarang pohon Gamal yang dapat tumbuh sampai besar, berbunga dan berbiji. Hal ini disebabkan Gamal sudah secara berkala di panen daun dan batangnya, jarang yang dapat tumbuh sampai berbunga dan berpolong. Alasan lain, perbanyakan dengan setek batang lebih mudah dan lebih cepat daripada melalui biji. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun.
 

Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan Meskipun kadang-kadang menggugurkan daunnya pada musim kering dan kondisi udara dingin, Gamal dapat dikategorikan sebagai pohon yang selalu hijau (evergreen). Dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali, dengan hasil antara 1 – 2 kg hijauan basah per tanaman. Beberapa literatur menyebutkan waktu penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Namun kami mendapatkan sedikit masalah ketika curah hujan terlalu tinggi. Banyak setek tanaman menjadi busuk akibat curah hujan yang tinggi. Kami biasanya menanam pada tengah atau bahkan akhir musim hujan atau membuat guludan (raised bed) di sekitar lokasi penanaman apabila diperkirakan curah hujan tinggi. 

5. TANAMAN TURI ( Sesbania Grandiflora )



Daun turi merupakan hijauan makanan ternak yang kaya akan kandungan protein kasar. Komposisi zat gizi daun turi terdiri atas; protein kasar 27,3%, energi kasar 4.825 kkal/kg, SDN 24,4%, lignin 2,7%, abu 7,5%, Ca 1,5% dan P 0,4%.

Salah satu kendala penggunaan daun turi sebagai pakan ternak adalah rendahnya produksi biomass dan tidak tahan terhadap pemangkasan. produksi daun turi pada musim kemarau (1,7 kg/pohon/3-4 bulan) dan musim hujan (4,1 kg/pohon/2-3 bulan). Akan tetapi, turi relatif tahan terhadap kekeringan sehingga sangat bermanfaat sebagai sumber pakan kambing pada musim kemarau. Pada musim kemarau, dimana rumput sangat sulit didapatkan, turi masih tumbuh subur dan berproduksi dengan baik. Pemetikan daun turi tidak dilakukan secara total, namun dipetik sebagian besar daunnya dan menyisakan daun pada pucuknya agar pohon turi tidak mati.

Turi seperti halnya gliricidia dapat dibudidayakan melalui biji dan ada juga jenis turi yang dapat dibudidayakan dari stek batangnya. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya, daun turi sebaiknya diberikan pada saat kebutuhan zat-zat makanan meningkat secara drastis, terutama pada akhir kebuntingan, awal laktasi dan Sampai pada masa pertumbuhan. 


Dikutip dari :
http://kelompokternakpucakmanik.blogspot.com/2011/07/mengenal-ragam-hmt-untuk-ternak-sapi.html